90 Persen UMKM RI Belum Optimalkan AI untuk Bisnis
JAKARTA (Lombokepo) - Lebih dari 90 persen pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia disebut belum memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara optimal dalam proses bisnis mereka.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan AI oleh pelaku usaha masih memiliki ruang yang cukup besar untuk dikembangkan, terutama dalam mendukung pemasaran dan menemukan calon pelanggan.
Baca Juga: FIKOM UNASMAN Perkuat Kompetensi Mahasiswa di Telkom AI Center
Studi Small Business Credit Survey yang dirilis Federal Reserve Bank of San Francisco mencatat hampir 40 persen bisnis kecil di Amerika Serikat sudah menggunakan atau berencana menggunakan AI.
Penggunaan AI paling banyak ditujukan untuk pekerjaan sehari-hari, seperti menulis materi pemasaran, membalas pesan pelanggan, membuat visual, hingga menganalisis data penjualan.
Pola serupa terlihat di Indonesia. Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat lebih dari 90 persen pelaku UMKM belum memanfaatkan AI secara optimal dalam proses bisnis mereka.
Sementara itu, survei UKM Indonesia bersama ICCI.id menemukan bahwa di antara UMKM yang telah mencoba menggunakan AI, pemanfaatannya masih banyak sebatas berdiskusi atau menggali ide.
Penggunaan tersebut belum banyak diarahkan pada pekerjaan yang secara langsung memengaruhi cara bisnis menemukan calon pelanggan.
Menguji Bisnis dari Sudut Pandang Pelanggan
Di tengah meningkatnya penggunaan AI, terdapat pertanyaan lain yang dinilai penting bagi pemilik usaha: ketika calon pelanggan bertanya kepada AI mengenai produk atau layanan tertentu, apakah nama bisnis mereka muncul dalam jawabannya?
Selama ini, banyak pemilik bisnis menggunakan AI untuk membantu membuat materi promosi atau menjawab pesan pelanggan. Namun, belum semuanya mencoba menggunakan AI dari perspektif calon pelanggan.
Misalnya, dengan mengajukan pertanyaan seperti, "Rekomendasi tempat makan enak di dekat sini" atau "Aplikasi belanja online paling terpercaya apa?"
Pertanyaan tersebut dapat memberikan gambaran apakah sebuah bisnis muncul dalam rekomendasi yang diberikan AI ketika seseorang sedang mencari produk atau layanan.
"Orang sudah nyaman pakai AI buat bantu kerjaan sehari-hari, tapi jarang kepikiran untuk mengecek AI dari sisi pelanggan. Padahal pertanyaan yang sama persis itulah yang menentukan apakah bisnis mereka ditemukan atau tidak," ujar Alexandro Wibowo, Partner of Avonetiq.
Kesenjangan tersebut coba dijawab melalui AVO by Avonetiq. Platform ini diarahkan untuk membantu bisnis melihat bagaimana keberadaan mereka ketika AI digunakan dari sudut pandang calon pelanggan.
Dengan pendekatan tersebut, pemilik usaha dapat mengecek apakah bisnisnya muncul ketika AI diberikan pertanyaan yang lazim diajukan konsumen sebelum mengambil keputusan pembelian.
"Ada satu pertanyaan yang jarang ditanyakan pemilik bisnis ke AI, padahal itu yang paling penting: kalau saya bukan pemilik bisnis ini, apakah AI bakal merekomendasikan saya ke orang lain? Kebanyakan belum pernah coba tanya itu," tambah Alexandro.
Seiring semakin banyak orang menggunakan AI untuk mencari informasi dan rekomendasi sehari-hari, cara bisnis ditemukan oleh calon pelanggan juga mulai menjadi perhatian baru.
Bagi pelaku UMKM, pemanfaatan AI bukan hanya berkaitan dengan bagaimana teknologi tersebut dapat membantu pekerjaan menjadi lebih cepat, tetapi juga bagaimana bisnis mereka dapat ditemukan ketika calon pelanggan mulai mencari rekomendasi melalui AI.
Penulis: Hadi
Editor: Redaksi Lombokepo
Penerbit: PT Digital Lombok Media
Posting Komentar