NTB Pertahankan Peringkat Tiga Besar Pariwisata Ramah Muslim Nasional
JAKARTA, LOMBOK KEPO – Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali menempati posisi tiga besar nasional dalam pengembangan pariwisata ramah Muslim. Dalam Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2026, NTB meraih peringkat ketiga, di bawah Jawa Barat dan Jawa Tengah yang masing-masing berada di posisi pertama dan kedua.
Capaian tersebut memperkuat posisi NTB sebagai destinasi pariwisata ramah Muslim yang berdaya saing. Namun, pemerintah daerah menilai prestasi ini perlu diikuti peningkatan kualitas layanan dan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Penghargaan tersebut diterima Sekretaris Daerah (Sekda) NTB Abul Chair, mewakili Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, dari Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana dalam gelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (16/10/2026).
Abul Chair mengatakan, penghargaan itu bukan sekadar pengakuan atas pencapaian daerah, tetapi juga mencerminkan kerja bersama dalam menjaga kualitas dan memperkuat ekosistem pariwisata ramah Muslim di NTB.
“Alhamdulillah, NTB kembali meraih peringkat ketiga Indonesia Muslim Travel Index 2026. Ini merupakan kebanggaan sekaligus pengakuan atas konsistensi kita dalam membangun pariwisata ramah Muslim. Namun, yang lebih penting dari penghargaan ini adalah bagaimana kita menjaga kualitas, meningkatkan pelayanan, dan memastikan pariwisata memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Abul Chair.
Menurutnya, capaian tersebut harus menjadi dorongan untuk terus berbenah di tengah persaingan destinasi wisata yang semakin ketat. Keindahan alam dan kekayaan budaya perlu didukung kualitas pelayanan, akses terhadap fasilitas yang dibutuhkan wisatawan Muslim, kebersihan, keamanan, kenyamanan, serta keramahan masyarakat.
Ia menegaskan, konsep pariwisata ramah Muslim bukan berarti membatasi segmen wisatawan. Sebaliknya, pendekatan ini bertujuan menghadirkan destinasi yang nyaman dan inklusif bagi berbagai kalangan.
Dengan demikian, NTB berpeluang memperluas pasar wisatawan sekaligus memperkuat citra sebagai destinasi yang menawarkan keindahan alam, kekayaan budaya, dan layanan berkualitas.
“Penghargaan ini milik seluruh masyarakat NTB, termasuk para pelaku usaha pariwisata, pemerintah kabupaten/kota, komunitas, dan semua pihak yang terus menjaga keramahan serta kualitas destinasi kita. Tantangan berikutnya adalah memastikan prestasi ini berbanding lurus dengan peningkatan kunjungan, tumbuhnya usaha masyarakat, terbukanya lapangan kerja, dan semakin kuatnya kontribusi pariwisata terhadap perekonomian daerah,” katanya.
Abul Chair juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mempertahankan daya saing pariwisata NTB. Pemerintah daerah, pelaku industri, masyarakat, dan mitra strategis, termasuk Bank Indonesia, perlu memperkuat sinergi dalam peningkatan standar pelayanan, kapasitas sumber daya manusia, promosi destinasi, serta pengembangan rantai nilai ekonomi halal.
Di tingkat global, pariwisata ramah Muslim Indonesia juga menunjukkan perkembangan positif. Dalam Indonesia Muslim Friendly Travel Summit yang menjadi bagian dari ISEF 2026, disampaikan bahwa Indonesia naik ke peringkat kedua Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026, dari posisi kelima pada 2025.
Peningkatan tersebut membuka peluang bagi destinasi di berbagai daerah, termasuk NTB, untuk memperkuat daya saing dan menjangkau pasar wisatawan Muslim internasional.
ISEF ke-13 berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di JICC, Jakarta. Kegiatan ini melibatkan mitra ekonomi dan keuangan syariah dari dalam dan luar negeri serta lebih dari 1.000 pelaku industri halal. Berbagai forum yang digelar menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah, termasuk pariwisata ramah Muslim.
Bagi NTB, mempertahankan posisi tiga besar IMTI bukanlah garis akhir. Tantangan selanjutnya adalah menerjemahkan capaian tersebut menjadi peningkatan kualitas destinasi, perluasan peluang usaha, pembukaan lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat.
Keberhasilan pariwisata pada akhirnya tidak hanya diukur dari posisi dalam indeks, tetapi juga dari besarnya manfaat ekonomi dan sosial yang dirasakan masyarakat Nusa Tenggara Barat.
Posting Komentar