Bukan Sekadar Menanam Mangrove, Paremas Menata Masa Depan Pesisir
Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) NTB Bersama BPDAS Dodokan Moyosari dan UNRAM saat Melakukan Penanaman di Kawasan Ekowisata Mangrove Paremas Lombok Timur (Sumber: BPDAS Dodokan Moyosari)
Paremas didorong menjadi model ekowisata mangrove berkelanjutan melalui kolaborasi, konservasi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Lombok Timur, Lombokepo.site – Pengembangan Ekowisata Mangrove Paremas, Lombok Timur, diarahkan menjadi model pengelolaan kawasan pesisir berkelanjutan yang memadukan konservasi lingkungan, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Mangrove Sedunia yang digelar di Paremas pada 25 Juli 2026. Sejumlah pihak terlibat dalam upaya mengembangkan kawasan ini, dengan perhatian tidak hanya pada penanaman mangrove, tetapi juga pada keberlanjutan ekosistem dan manfaatnya bagi masyarakat. Informasi mengenai kegiatan tersebut diperoleh media ini dari Kepala BPDAS Dodokan Moyosari, Ir. Sigit Haryadi, S.Hut., M.Eng., M.Sc., pada Senin (26/10/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan pemerintah, akademisi, masyarakat setempat, komunitas lingkungan, dunia usaha, serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Mataram (Unram). Bank NTB Syariah turut berpartisipasi dengan melibatkan sekitar 30 peserta, bersama sejumlah pihak lain, termasuk PT Autore, BPDAS Dodokan Moyosari, dan Yayasan Indonesia Biru.
Penanaman mangrove bersama menjadi salah satu agenda kegiatan tersebut. Namun, upaya menjaga kawasan pesisir tidak berhenti pada penanaman bibit, melainkan membutuhkan pemeliharaan dan keterlibatan berbagai pihak secara berkelanjutan.
Mangrove, Pelindung Pantai dan Sumber Penghidupan
Ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan kawasan pesisir. Selain membantu melindungi pantai dari abrasi, mangrove menjadi habitat berbagai biota, menyerap karbon, dan menopang keberlanjutan sumber daya laut.
Bagi masyarakat pesisir, keberadaan mangrove juga memiliki nilai ekonomi melalui pengembangan ekowisata. Potensi ini dapat membuka peluang usaha, memperluas aktivitas ekonomi lokal, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan.
Ketua Kelompok Ekowisata Mangrove Paremas menegaskan bahwa dukungan berbagai pihak diperlukan untuk mengembangkan kawasan tersebut. Salah satu dukungan yang telah diterima adalah pembangunan jalur penelusuran atau tracking mangrove sepanjang sekitar 100 meter melalui kontribusi Bank NTB Syariah.
Dukungan tersebut juga disertai komitmen tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) selama tiga tahun. Bantuan ini diharapkan dapat mendukung pengembangan Paremas sebagai destinasi wisata alam yang menawarkan pengalaman rekreasi, edukasi lingkungan, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Meski demikian, pengembangan ekowisata harus tetap menempatkan kelestarian ekosistem sebagai prioritas. Aktivitas wisata tidak boleh mengabaikan fungsi ekologis mangrove yang menjadi fondasi utama keberlanjutan kawasan.
Rehabilitasi Mangrove Membutuhkan Lebih dari Sekadar Menanam
Dalam kegiatan tersebut, Prof. Dr. Ir. Markum, M.Sc., yang mewakili Universitas Mataram melalui program Profesor Berdampak, menekankan pentingnya perlindungan dan rehabilitasi mangrove, terutama pada lokasi dengan tutupan vegetasi yang masih jarang dan berpotensi dipulihkan.
Tekanan akibat aktivitas manusia menjadi salah satu tantangan dalam menjaga kelestarian mangrove. Karena itu, upaya rehabilitasi perlu disesuaikan dengan kondisi ekologis di lapangan dan didukung penguatan kelembagaan, kerja sama antarpihak, peningkatan fasilitas ekowisata, serta pelatihan bagi kelompok pengelola.
Kolaborasi melalui program Profesor Berdampak diharapkan dapat memperkuat pengelolaan Ekowisata Mangrove Paremas agar lebih terarah dan berkelanjutan.
Perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan NTB juga mengingatkan bahwa mangrove merupakan benteng pertahanan pesisir, penyerap karbon, serta penopang ekosistem laut dan perekonomian masyarakat.
Penanaman mangrove, menurut pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial. Upaya itu harus menjadi bagian dari komitmen jangka panjang yang disertai pemeliharaan, pengawasan, dan tata kelola yang baik.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala BPDAS Dodokan Moyosari, Ir. Sigit Haryadi, S.Hut., M.Eng., M.Sc., menekankan bahwa tantangan utama rehabilitasi mangrove bukan hanya menanam bibit, melainkan memastikan tanaman tersebut dapat tumbuh dan bertahan hidup.
Keberhasilan rehabilitasi dipengaruhi faktor alam dan sosial. Kondisi ombak, genangan, serta gangguan organisme seperti tritip dapat memengaruhi pertumbuhan mangrove. Sementara itu, faktor sosial berkaitan dengan kepentingan berbagai pihak, terutama ketika kawasan mulai memberikan manfaat ekonomi.
Oleh sebab itu, kesepahaman perlu dibangun sejak awal dengan melibatkan kelompok pengelola mangrove, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), pemerintah desa, pemerintah kecamatan, perguruan tinggi, dan masyarakat.
Tata kelola yang jelas diharapkan dapat memastikan manfaat ekonomi kawasan dinikmati secara adil tanpa mengorbankan fungsi ekologis maupun memicu konflik antarpihak.
Kolaborasi Pentahelix Menjadi Kunci Keberlanjutan
Pengelolaan mangrove berkelanjutan tidak dapat bergantung pada satu lembaga. Diperlukan kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, dan masyarakat.
Dalam pengembangan Paremas, setiap pihak memiliki peran yang saling melengkapi. Pemerintah berperan dalam fasilitasi kebijakan dan pembinaan. Perguruan tinggi mendukung kajian, pendampingan, serta peningkatan kapasitas. Dunia usaha dapat berkontribusi melalui pendanaan dan layanan, sedangkan kelompok masyarakat menjadi pelaku utama pengelolaan kawasan.
Yayasan Indonesia Biru turut memperkenalkan berbagai inisiatif konservasi, mulai dari perlindungan dan restorasi terumbu karang, rehabilitasi mangrove, pengelolaan sampah, konservasi hiu dan pari, hingga pemberdayaan masyarakat.
Lembaga tersebut juga mengajak berbagai pihak mengurangi sampah plastik serta mendukung restorasi mangrove dan pengembangan ekowisata.
Dukungan sektor perbankan turut menjadi bagian dari upaya tersebut. Bank NTB Syariah memandang penanaman mangrove sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan yang sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Baca Juga: HUT ke-62, Bank NTB Syariah Tanam Mangrove di Ekowisata Paremas
Selain dukungan terhadap kegiatan lingkungan, pengembangan layanan pembiayaan dan sistem digital dinilai berpotensi mempermudah transaksi pengunjung. Kontribusi dunia usaha diharapkan dapat menghubungkan agenda konservasi dengan penguatan ekonomi lokal.
Rehabilitasi mangrove juga memerlukan dukungan pendanaan dari APBN, organisasi nonpemerintah, dan mitra lainnya. Pendanaan tersebut diharapkan dapat membantu memulihkan kawasan mangrove yang rusak sekaligus mempertahankan kawasan yang masih terjaga.
KKMD NTB Tetapkan Paremas sebagai Lokasi Binaan
Peringatan Hari Mangrove Sedunia di Paremas juga menjadi langkah konkret dalam merealisasikan rencana aksi Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Provinsi NTB.
Ekowisata Mangrove Paremas ditetapkan sebagai lokasi binaan. Penetapan tersebut ditandai dengan pemasangan plang kerja sama antara KKMD NTB, Universitas Mataram, dan BPDAS Dodokan Moyosari.
Langkah ini diharapkan memperkuat koordinasi, pendampingan, serta pengembangan program konservasi dan rehabilitasi mangrove secara lebih terarah.
Status sebagai lokasi binaan juga membuka peluang peningkatan kapasitas kelompok pengelola, perbaikan kualitas kawasan ekowisata, dan penguatan jejaring kemitraan.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lombok Timur, Ir. Taswiruddin, M.Si., menegaskan pentingnya komitmen berkelanjutan dalam pengelolaan mangrove.
“Penanaman mangrove harus ditindaklanjuti dengan komitmen jangka panjang dan tata kelola yang baik,” tegas Taswiruddin.
Ia juga menekankan perlunya penyusunan peta jalan atau roadmap pengembangan kawasan dalam enam bulan hingga satu tahun ke depan.
Perencanaan tersebut dinilai penting untuk menentukan prioritas kegiatan, pembagian peran antarpihak, kebutuhan pendanaan, serta mekanisme pemantauan dan evaluasi.
Dengan perencanaan yang terarah, Paremas diharapkan berkembang menjadi pusat edukasi, rekreasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis ekowisata mangrove.
Tata Kelola yang Adil untuk Mencegah Konflik
Di balik potensi ekonomi ekowisata mangrove, terdapat tantangan kelembagaan yang perlu diantisipasi. Ketika kawasan semakin ramai dikunjungi dan mulai menghasilkan pendapatan, hubungan antara pemerintah desa, kelompok pengelola, pelaku usaha, dan masyarakat perlu diatur secara transparan.
Kejelasan pembagian peran, hak, tanggung jawab, serta mekanisme pemanfaatan hasil ekonomi menjadi hal penting untuk mencegah konflik.
Masyarakat harus ditempatkan sebagai bagian utama dalam pengelolaan kawasan, bukan sekadar penerima manfaat. Karena itu, penguatan kelembagaan perlu disertai peningkatan kemampuan dalam mengelola usaha, memberikan layanan wisata, menjaga kebersihan, dan memelihara mangrove.
Dengan kapasitas yang memadai, masyarakat diharapkan dapat mengambil peran lebih besar dalam menentukan arah pengembangan ekowisata.
Prinsip utamanya adalah memastikan manfaat ekonomi berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Menjadikan Penanaman sebagai Investasi Masa Depan
Peringatan Hari Mangrove Sedunia di Paremas membawa pesan bahwa konservasi mangrove merupakan investasi ekologis dan sosial bagi generasi mendatang.
Keberhasilan rehabilitasi tidak cukup diukur dari jumlah bibit yang ditanam atau kemeriahan kegiatan. Ukuran yang lebih penting mencakup tingkat kelangsungan hidup tanaman, pemulihan fungsi ekosistem, terjaganya kawasan mangrove, serta meningkatnya manfaat bagi masyarakat.
Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan pemeliharaan dan pengawasan rutin, rehabilitasi yang sesuai dengan kondisi lokasi, penguatan kelembagaan, pengurangan sampah, peningkatan kapasitas masyarakat, dan perencanaan ekowisata berkelanjutan.
Penetapan Paremas sebagai lokasi binaan KKMD NTB, Universitas Mataram, dan BPDAS Dodokan Moyosari menjadi langkah awal yang perlu ditindaklanjuti melalui program nyata dan terukur.
Pada akhirnya, masa depan mangrove Paremas tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menanam, tetapi juga oleh siapa yang bersedia merawat, mengelola, dan memastikan manfaatnya dapat dinikmati bersama.
Kolaborasi yang kuat, tata kelola yang adil, dan konsistensi pemeliharaan akan menjadi fondasi bagi terwujudnya ekowisata mangrove yang lestari, produktif, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir Lombok Timur.


Posting Komentar