Destinasi MICE dan UMKM: Langkah Optimis NTB Membangun Pariwisata Berkelanjutan
MATARAM - Dari pesona alamnya, ruang konvensi, hingga beranda rumah penduduk, denyut pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) kini terasa lebih utuh. Mengalir dari panggung MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) ke nadi ekonomi masyarakat secara langsung.
Dibalik geliat itu, Pemerintah Provinsi NTB menegaskan komitmennya agar pariwisata tidak tumbuh meninggalkan jejak kerusakan. Setiap langkah pembangunan pariwisata diarahkan pada prinsip berkelanjutan. Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal menegaskan pembangunan ekonomi dan pariwisata NTB mesti berjalan selaras dengan pelestarian lingkungan.
Hal tersebut tercermin dalam tahun pertama pemerintahan Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Hj. Indah Dhamayanti Putri, S.E., M.IP. Waktu yang singkat untuk membuktikan semangat kerja di tengah fluktuasi destinasi nasional. Namun, Provinsi NTB berhasil membuktikan capaiannya tak hanya berbicara soal jumlah kunjungan wisatawan melalui sektor MICE, tetapi juga kualitas wisatawan, matangnya penyelenggaraan event, dampak ekonomi yang dihasilkan bagi masyarakat lokal, serta kelestarian alam melalui pariwisata berkelanjutan.
Gubernur Iqbal menegaskan komitmennya menjadikan NTB sebagai destinasi kelas dunia melalui sektor MICE sebagai strategi unggulan dalam menggenjot pertumbuhan pariwisata. Langkah ini tak sekadar memperbanyak agenda pertemuan dan pameran, tetapi membangun ekosistem wisata berbasis event yang berdampak luas bagi masyarakat.
Miq Iqbal, sapaan Gubernur NTB, menyatakan penguatan MICE merupakan strategi sadar untuk meningkatkan kualitas kunjungan wisata, bukan hanya kuantitas.
“Kita ingin pariwisata NTB naik kelas. MICE adalah instrumen strategis untuk mendatangkan wisatawan berkualitas, memperpanjang lama tinggal, dan menggerakkan ekonomi lokal secara berkelanjutan,” ujar Gubernur NTB via siaran Pers Pemerintah Provinsi NTB pada 22 Februari 2026.
NTB Kian Mantap sebagai Episentrum Event 2025–2026
Melalui sektor MICE, Pemprov NTB terus menegaskan posisinya sebagai bagian dari pusat sport tourism dan event internasional di Indonesia. Sepanjang 2025 hingga 2026, berbagai ajang bergengsi nasional dan dunia digelar pada sejumlah destinasi unggulan, terutama kawasan Mandalika di Lombok.
Pada 2025, NTB menjadi tuan rumah Festival Olahraga Masyarakat Nasional VIII (Fornas VIII) yang menghadirkan ribuan pegiat olahraga masyarakat dari seluruh Indonesia. Pada sektor motorsport, ajang dunia MotoGP Indonesia kembali dilaksanakan di Sirkuit Mandalika. Tak hanya olahraga, NTB juga menggelar Indonesia Gastrodiplomacy Series 2025 yang mempertemukan diplomasi dan promosi kuliner daerah di panggung global.
Memasuki 2026, kalender event NTB semakin padat. Ajang lari berskala nasional dan internasional, Pocari Sweat Run Lombok, dijadwalkan kembali berlangsung di Mandalika. Dunia balap mobil internasional hadir pula melalui GT World Challenge Asia, memperkuat citra NTB sebagai destinasi motorsport kelas dunia. Pada sisi budaya, tradisi tahunan Bau Nyale Festival tetap menjadi magnet wisata yang memadukan kearifan lokal.
Menggenjot Lama Tinggal dan Belanja Wisatawan
Tantangan pariwisata NTB adalah rata-rata lama tinggal wisatawan yang masih relatif singkat. Melalui MICE, pemerintah mendorong agar peserta kegiatan tak hanya datang untuk menghadiri forum, tetapi juga menikmati destinasi wisata.
Strategi yang disiapkan meliputi integrasi paket wisata pra dan pasca-event, pelibatan desa wisata dan pelaku ekonomi kreatif, serta penyusunan kalender event sepanjang tahun. Gubernur NTB menekankan keberhasilan MICE bukan diukur dari banyaknya agenda, melainkan dampak ekonominya.
“Target kita bukan sekadar ramai. Adapun yang kita kejar adalah multiplier effect. Setiap kegiatan harus memberikan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
Sinergi dan Kapasitas SDM
Pemerintah Provinsi NTB juga memperkuat sinergi dengan kementerian, asosiasi perhotelan, pelaku event organizer, serta dunia usaha untuk aktif melakukan bidding berbagai kegiatan nasional dan internasional. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi prioritas, termasuk pelatihan hospitality dan sertifikasi profesi.
Capaian Pariwisata Provinsi NTB di Tahun Pertama Iqbal-Dinda
Berdasarkan data resmi BPS NTB, tingkat hunian kamar hotel bintang sepanjang 2025 menunjukkan tren stabil. Pada Oktober 2025, okupansi hotel bintang mencapai 43,51 persen. Angka tersebut merefleksikan geliat pertemuan, konferensi, dan pameran yang tersebar di Lombok maupun Sumbawa.
Konsep sustainable tourism mulai diterapkan secara lebih terstruktur pada 2025. Sejumlah venue MICE mendorong pengurangan plastik sekali pakai, penggunaan produk lokal, serta pelibatan UMKM dan komunitas desa wisata sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.
Dampak Langsung ke Masyarakat
Setiap agenda besar yang digelar di NTB dalam satu tahun terakhir tak lagi sekadar menjadi tontonan. Sektor MICE terbukti menghadirkan dampak ekonomi langsung bagi pelaku UMKM lokal.
- MotoGP Mandalika 2025: Mencatat lebih dari 140 ribu penonton dengan estimasi perputaran ekonomi mencapai Rp4,8 triliun.
- Fornas VIII 2025: Diikuti lebih dari 18.000 peserta dengan perputaran ekonomi lebih dari Rp800 miliar dan menciptakan sekitar 9.500 lapangan kerja sementara.
- Pocari Sweat Run 2025: Diikuti 9.000 pelari dengan perkiraan dampak ekonomi menembus Rp50 miliar.
Data BPS NTB menunjukkan rata-rata lama tinggal tamu hotel yang mendekati dua hari menjadi indikator bahwa event besar berkontribusi terhadap pergerakan ekonomi yang lebih meluas. Sektor MICE di NTB berkembang bukan hanya sebagai strategi mendatangkan wisatawan, tetapi sebagai instrumen penguatan ekonomi lokal.
Penulis: Hadi | Lombokepo
Editor: Tim Redaksi Lombokepo
Posting Komentar