Satu Tahun Iqbal – Dinda Pacu Ketahanan Pangan
Daftar Isi
Ketahanan Pangan Nusa Tenggara Barat Berpacu: Dari Produksi, Stok hingga Konsumsi
Ketahanan pangan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sepanjang 2025 berada pada level aman. Kondisi ini ditopang kinerja sektor pertanian, perikanan, dan peternakan yang menunjukkan tren positif. Memasuki 2026, tantangan tidak hanya menjaga konsistensi capaian, tetapi juga meningkatkan daya tahan sektor pangan agar mampu menggerakkan ekonomi daerah dengan stok yang tersedia dan harga terjangkau bagi masyarakat.
Produksi dan Stok Aman
Status aman tersebut didukung stok beras yang mencukupi serta surplus daging, termasuk pengiriman 16 ribu ekor sapi ke luar daerah. Produksi padi meningkat 16,85 persen menjadi 1.698.283 ton Gabah Kering Giling (GKG), dari 1,45 juta ton pada 2024.
Luas panen naik menjadi 322.927 hektare dengan produktivitas 52,59 kuintal per hektare, didorong optimalisasi lahan seluas 10.574 hektare dan penggunaan benih unggul.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, Eva Dewiyani, menegaskan bahwa pada 2026 Pemprov NTB terus memperkuat optimalisasi lahan dan menjalankan program strategis untuk menyelaraskan target swasembada pangan nasional di daerah.
“NTB optimistis menjaga tren peningkatan produksi sekaligus memperkuat ketahanan pangan sebagai kontribusi menuju kebangkitan swasembada pangan Indonesia,” ujarnya.
Sentra Produksi Tertinggi 2025
Empat daerah menjadi kontributor utama produksi padi NTB:
* Lombok Tengah: 421.941 ton GKG (53,66 kuintal/ha)
* Sumbawa: 398.864 ton GKG (53,37 kuintal/ha)
* Lombok Timur: 243.474 ton GKG (53,64 kuintal/ha)
* Bima: 208.018 ton GKG (48,55 kuintal/ha)
Nilai Tukar Petani (NTP) meningkat menjadi 131 pada awal 2026, mencerminkan perbaikan kesejahteraan petani sepanjang 2025. Perum Bulog NTB juga memastikan stok tetap aman dengan serapan gabah melampaui target.
Tantangan 2026: Lahan, Iklim, dan Konsumsi
Meski surplus produksi beras diproyeksikan berlanjut (sekitar 500 ribu ton), NTB menghadapi sejumlah tantangan:
1. Alih fungsi lahan pertanian.
2. Dampak perubahan iklim terhadap produktivitas.
3. Tingginya konsumsi beras per kapita (±103 kg/tahun).
4. Sistem logistik dan distribusi yang belum optimal, termasuk keterbatasan cold storage.
Untuk itu, diversifikasi pangan menjadi agenda penting guna mengurangi ketergantungan terhadap beras. Pada 2026, optimalisasi lahan ditargetkan mencapai 14 ribu hektare.
Stabilisasi harga dilakukan melalui intervensi pasar seperti Gerakan Pangan Murah (GPM) di 26 titik pada 2025, terutama menjelang Ramadan, guna menekan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat.
Stop Boros Pangan dan Pengelolaan Limbah
Sekitar 40 persen timbunan sampah di NTB merupakan sisa makanan. Untuk itu, Pemprov NTB menggalakkan Gerakan Stop Boros Pangan (SBP) dan Gerakan Selamatkan Pangan guna menekan food loss dan food waste.
Langkah konkret dilakukan melalui:
* Edukasi masyarakat dan sektor pariwisata agar bijak mengelola konsumsi pangan.
* Pemanfaatan sisa organik, termasuk dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menjadi pakan maggot untuk budidaya ikan atau kompos.
Upaya ini sejalan dengan target SDGs 12.3 untuk mengurangi food waste hingga 50 persen pada 2030, sekaligus menekan emisi gas rumah kaca dari sampah organik.
Sektor Perikanan dan Kelautan: Pilar Protein dan Ekonomi
Sebagai provinsi kepulauan dengan luas daratan 1,96 juta hektare dan lautan 2,79 juta hektare (Pulau Lombok, Pulau Sumbawa, dan 401 pulau kecil), NTB memiliki potensi perikanan tangkap hingga 200 ribu ton per tahun.
Produksi perikanan 2025 terealisasi lebih dari 101,6 persen. Produksi tangkap mencapai 185.518 ton per tahun, dengan komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti tuna, cakalang, tongkol, cumi, dan udang.
Kontribusi sektor ini terhadap PDRB NTB meningkat dari Rp7,8 triliun (2024) menjadi Rp8,04 triliun (2025). Konsumsi ikan menyumbang 6,85 gram protein per kapita per hari.
Pengembangan pusat budidaya udang terintegrasi (SIM Estate) di Moyo Utara, Kabupaten Sumbawa, seluas 1.000 hektare, menjadi langkah strategis hilirisasi dan peningkatan nilai tambah.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, Muslim, S.T., M.Si., menegaskan penguatan kelembagaan melalui SOTK baru, peningkatan kapasitas SDM, dan optimalisasi UPT menuju BLUD akan memperkuat daya saing sektor ini.
Pemerintah NTB juga mendorong hilirisasi lima komoditas unggulan: garam, rumput laut, udang vaname, tuna, dan cakalang.
Peternakan: Surplus Daging dan Kemandirian Pakan
Sektor peternakan NTB, khususnya sapi potong yang terkonsentrasi di Sumbawa dan Bima (lebih dari 300 ribu ekor pada 2024), menjadi pilar ketahanan pangan lokal dan nasional.
Ketersediaan jagung lokal sebagai pakan mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah. Selain sapi, populasi kambing terbesar berada di Kabupaten Bima, Lombok Timur, dan Lombok Tengah.
Industri peternakan ayam juga berkembang pesat dengan nilai investasi mendekati Rp20 triliun.
Optimisme 2026
Dengan penguatan pertanian, perikanan, kelautan, dan peternakan, NTB menunjukkan tren progresif dari tahun ke tahun. Tantangan alih fungsi lahan, perubahan iklim, dan pemborosan pangan direspons melalui inovasi, hilirisasi, dan kolaborasi lintas sektor.
Satu tahun kepemimpinan Iqbal–Dinda menjadi momentum percepatan menuju ketahanan pangan yang berkelanjutan, inklusif, dan berdaya saing nasional.
Penulis: Red*
Editor: AI/Tim Lombokepo

Posting Komentar