Nobar “Menolak Punah”: GMNI NTB Soroti Krisis Lingkungan
Nonton bareng film “Menolak Punah” oleh GMNI NTB di Mataram menjadi ruang diskusi kritis tentang krisis lingkungan dan dampak industri fashion.
LOMBOKEPO – MATARAM, NTB – Krisis lingkungan akibat industri fashion kembali disorot dalam nonton bareng film dokumenter “Menolak Punah” yang digelar DPD GMNI NTB bersama BEMNUS Bali-Nusra di Nonasuka Kopitiam, Mataram.
Kegiatan ini tidak sekadar ruang tontonan, melainkan forum refleksi kritis atas dampak industri fashion yang selama ini jarang disadari publik—mulai dari limbah tekstil, mikroplastik, hingga krisis kedaulatan lingkungan dan ekonomi lokal.
Film “Menolak Punah” Ungkap Jejak Gelap Industri Fashion
Film “Menolak Punah” membongkar rantai produksi pakaian dari hulu ke hilir: apa yang terjadi sebelum pakaian dipakai, dan dampak lingkungan setelahnya dibuang.
Baca juga:
GMNI Lombok Timur Gelar Konferensi Cabang, Hamran: Semoga Melahirkan Pemimpin yang Naik Kelas
Kolaborasi berbagai pihak seperti Ekspedisi Indonesia Baru, The Body Shop Indonesia, Sunspirit, dan Sejauh Mata Memandang memperkuat pesan bahwa krisis ini bersifat sistemik dan membutuhkan respons kolektif.
Diskusi Kritis: Mahasiswa hingga Aktivis Terlibat
Diskusi menghadirkan narasumber Adi Ardiansyah (Direktur JARak) dan Ari Sahdi Gare, dengan moderator Haerul Azmi. Kegiatan berlangsung dinamis dengan partisipasi mahasiswa, aktivis, dan kader GMNI Kota Mataram.
GMNI NTB: Krisis Lingkungan Sudah Nyata
Ketua DPD GMNI NTB, Sulhamran, pada Selasa 5 Mei 2026 menegaskan bahwa krisis limbah tekstil dan mikroplastik bukan lagi ancaman masa depan, tetapi sudah berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
“Kesadaran individu saja tidak cukup. Kita butuh perubahan cara pandang kolektif—bahwa apa yang kita pakai, konsumsi, dan buang memiliki konsekuensi ekologis yang serius,” tegasnya.
Kritik terhadap Kebijakan Lingkungan
GMNI NTB juga menyoroti minimnya keberpihakan kebijakan terhadap perlindungan lingkungan. Pemerintah dinilai belum menempatkan krisis ekologis sebagai prioritas utama.
Baca juga:
Bardam Nusa Salurkan Iqro dan Buku Ceramah ke TPQ di Desa Risa Bima
Padahal dampaknya sudah dirasakan nyata, termasuk di NTB.
Seruan Aksi: Regulasi hingga Produksi Berkelanjutan
DPD GMNI NTB menyerukan langkah konkret pemerintah, antara lain:
- Menjadikan pengelolaan limbah industri sebagai agenda prioritas
- Memperkuat regulasi industri perusak lingkungan
- Mendorong produksi dan konsumsi berkelanjutan
- Melindungi ekosistem lokal sebagai warisan leluhur
“Lingkungan bukan sekadar sumber daya, tetapi ruang hidup yang diwariskan oleh leluhur dan harus dijaga untuk generasi mendatang. Mengabaikannya berarti mengkhianati masa depan,” tambah Sulhamran.
Penutup: Dorong Kesadaran Kritis Masyarakat
Melalui nobar dan diskusi ini, GMNI NTB berharap masyarakat tidak lagi menjadi konsumen pasif, melainkan subjek kritis yang berani menuntut perubahan dari diri sendiri maupun negara.
Karena pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan pilihan, tetapi keharusan.
Penulis: Hadi | lombokepo
Editor: Tim Redaksi lombokepo
Posting Komentar