Peta Jalan Kebudayaan NTB: Menjaga Identitas di Tengah Arus Modernitas
Kepala Dinas Kebudayaan NTB, Muhamad Ihwan, menegaskan kebudayaan harus menjadi kompas pembangunan daerah melalui penguatan identitas budaya, pendidikan karakter, dan kolaborasi lintas sektor di Nusa Tenggara Barat.
MATARAM, NTB - Dinas Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kini memasuki fase baru dalam sejarah pembangunan daerah. Untuk pertama kalinya berdiri sebagai dinas tersendiri, terpisah dari sektor pendidikan, lembaga ini membawa misi besar: menempatkan kebudayaan bukan sekadar pelengkap seremoni, melainkan sebagai ruh pembangunan masyarakat.
Di tengah transisi tersebut, nama Muhamad Ihwan menjadi figur penting yang mulai memberi arah baru kebijakan kebudayaan di NTB. Pengalaman panjangnya di bidang kearsipan, kebencanaan, dan pelayanan publik membentuk pandangan bahwa kebudayaan bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi fondasi masa depan daerah.
Baginya, budaya tidak cukup hadir di panggung festival atau seremoni tahunan. Kebudayaan harus hidup dalam perilaku sehari-hari masyarakat. Ia bahkan menyebut budaya sebagai “benteng terakhir” moralitas publik di tengah derasnya arus modernisasi dan komunikasi digital tanpa batas.
Dari Penyelenggara Acara Menjadi Orkestrator Kebudayaan
Perubahan paling mendasar yang mulai dibangun adalah menggeser posisi Dinas Kebudayaan dari sekadar penyelenggara kegiatan menjadi orkestrator kebudayaan daerah.
Baca juga:
Pemprov NTB Dorong Ekosistem Industri Kreatif dari Sekolah
Selama ini, berbagai agenda budaya di NTB berkembang dengan kekuatan lokal masing-masing. Mulai dari Festival Rimpu di Bima, tradisi Budaya Nyesek di Lombok, Malala di Sumbawa, hingga berbagai ritus adat lainnya tumbuh kuat di wilayahnya sendiri, namun belum sepenuhnya terhubung dalam narasi besar kebudayaan NTB.
Menurut Ihwan, keberagaman tersebut justru menjadi kekayaan utama daerah. Namun, ia menilai perlu adanya benang merah agar seluruh gerakan budaya dapat saling memperkuat.
“Kami ingin agenda-agenda budaya di NTB bergerak dalam arah yang sama, saling mendukung, dan tumbuh bersama. Dinas Kebudayaan tidak harus selalu menjadi aktor utama di panggung, tetapi menjadi dirigen yang menjaga harmoni antara pemerintah daerah, komunitas budaya, pelaku seni, lembaga adat, dunia pendidikan, dan masyarakat,” ujarnya di ruang kerjanya, (7/5/2026).
Menyusun Peta Jalan Pemajuan Kebudayaan NTB
Gagasan tersebut mulai diterjemahkan ke dalam peta jalan pemajuan kebudayaan NTB yang disusun secara bertahap dan realistis. Fokusnya bukan hanya kegiatan seremonial, melainkan penguatan ekosistem budaya yang berkelanjutan.
Salah satu langkah awal yang diprioritaskan adalah pembenahan data kebudayaan melalui pendataan digital terhadap 12 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK).
Objek tersebut meliputi:
- Tradisi lisan
- Manuskrip
- Adat istiadat
- Ritus
- Pengetahuan tradisional
- Keterampilan tradisional
- Seni
- Bahasa
- Permainan rakyat
- Olahraga tradisional
- Cagar budaya
- Indikasi geografis
Menurut Ihwan, tanpa basis data yang kuat, arah kebijakan kebudayaan akan sulit dibangun secara tepat sasaran. Karena itu, inventarisasi, dokumentasi, dan publikasi karya budaya di seluruh kabupaten/kota mulai diperkuat secara terpadu.
Kekhawatiran Krisis Identitas Generasi Muda
Di balik agenda besar tersebut, Ihwan juga menyimpan kegelisahan terhadap fenomena yang ia sebut sebagai “krisis identitas” di kalangan generasi muda.
Baca juga:
Goresan Cahaya Kartini di TK Mutiara Persada
Ia melihat perubahan pola komunikasi digital perlahan mengikis budaya bertutur, etika bertamu, serta nilai penghormatan yang selama ini menjadi inti filosofi masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo.
Kondisi itulah yang melahirkan gagasan “Budaya Masuk Sekolah”. Namun, ia menegaskan program tersebut tidak boleh berhenti pada simbol seremonial semata.
“Mengenakan pakaian adat itu penting sebagai simbol penghormatan terhadap identitas daerah. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai budaya hidup dalam perilaku sehari-hari anak-anak kita. Bagaimana menghormati orang tua, menghargai guru, menyayangi yang lebih muda, menjaga tutur kata, dan memiliki rasa malu ketika melanggar nilai-nilai kebaikan. Itu inti kebudayaan,” katanya.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Membangun Karakter Daerah
Dalam implementasinya, Dinas Kebudayaan NTB tidak berjalan sendiri. Pendekatan kolaboratif lintas sektor menjadi strategi utama yang mulai dibangun.
Bersama Dinas Pendidikan dan Olahraga, penguatan muatan lokal dan pendidikan karakter berbasis budaya mulai diarahkan ke sekolah-sekolah. Dengan BPBD, kebudayaan didorong menjadi bagian dari mitigasi kebencanaan melalui penguatan kearifan lokal masyarakat.
Sementara bersama Dinas Pariwisata, kebudayaan ditempatkan sebagai fondasi utama pariwisata berkualitas agar sektor wisata tidak kehilangan jati diri budaya lokal.
Kerja sama dengan BPSDM juga mulai diarahkan pada penguatan literasi budaya bagi ASN, khususnya aparatur baru dan pegawai dari luar daerah agar memahami karakter sosial serta sensitivitas budaya masyarakat NTB.
12 Program Unggulan Kebudayaan NTB
Sebagai arah pembangunan jangka menengah, Dinas Kebudayaan NTB mulai menyusun 12 program unggulan kebudayaan secara bertahap, yakni:
- Penguatan data 12 OPK NTB
- Budaya masuk sekolah
- Pengembangan desa dan kampung budaya
- Revitalisasi permainan rakyat dan olahraga tradisional
- Literasi budaya ASN
- Festival budaya terpadu NTB
- Digitalisasi warisan budaya
- Revitalisasi museum dan taman budaya
- Fasilitasi komunitas seni dan budaya
- Penguatan diplomasi budaya NTB
- Pengembangan ekonomi budaya berbasis masyarakat
- Kebudayaan sebagai instrumen ketahanan sosial
Menurut Ihwan, program-program tersebut bukan proyek instan, melainkan fondasi jangka panjang yang membutuhkan dukungan berbagai pihak.
Budaya sebagai Kompas Moral di Tengah Modernitas
Di tengah keterbatasan sumber daya manusia, sarana-prasarana, hingga anggaran, Dinas Kebudayaan NTB memilih membangun langkah secara realistis dan kolaboratif.
Bidang kerja sama yang baru dibentuk di lingkungan dinas diharapkan menjadi pintu membangun sinergi dengan pemerintah kabupaten/kota, perguruan tinggi, komunitas budaya, media, dunia usaha, hingga lembaga nasional dan internasional.
Baca juga:
Guru Berkarakter Jadi Kunci Pendidikan NTB
Bagi Ihwan, keberhasilan pembangunan kebudayaan tidak diukur dari megahnya panggung festival atau banyaknya acara seremonial, melainkan dari perubahan perilaku masyarakat, terutama generasi muda.
“Kalau anak-anak muda NTB tetap santun dalam bertutur, bangga menggunakan bahasa dan budayanya, menghormati orang tua, serta percaya diri membawa identitas daerahnya di tengah pergaulan global, maka di situlah kebudayaan bekerja,” ujarnya.
Di tengah dunia yang berubah sangat cepat, kebudayaan bagi Muhamad Ihwan bukan sesuatu yang harus ditinggalkan demi modernitas. Justru nilai-nilai warisan leluhur itulah yang diyakini menjadi kompas moral agar masyarakat NTB tetap memiliki arah di tengah arus zaman.
Penulis: Hadi | lombokepo
Editor: Tim Redaksi lombokepo
Posting Komentar