GPM NTB Jaga Harga Pangan di Wilayah Miskin Ekstrem

Daftar Isi
Warga antre membeli bahan pangan murah dalam Gerakan Pangan Murah (GPM) Pemprov NTB di Desa Taman Ayu Lombok Barat

Warga antusias mengikuti Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Pemprov NTB di Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung, Lombok Barat, sebagai upaya menjaga stabilitas harga dan membantu masyarakat di wilayah miskin ekstrem.

GPM NTB di Taman Ayu Lombok Barat Jaga Stabilitas Harga Pangan

LOMBOK BARAT, NTB - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan kembali memperluas pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM). Kali ini kegiatan digelar di Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, Jumat (5/6), dengan sasaran utama masyarakat di wilayah kategori kemiskinan ekstrem serta daerah yang memiliki keterbatasan akses terhadap bahan pangan.

Baca juga:
Gubernur NTB Pantau Harga Bahan Pokok di Pasar Brang Biji

GPM NTB Sasar Wilayah Kemiskinan Ekstrem

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah, menegaskan bahwa GPM menjadi salah satu instrumen pemerintah dalam menjaga kestabilan harga sekaligus memastikan keterjangkauan pangan bagi masyarakat di wilayah terpencil.

“Ini bentuk kepedulian pemerintah terhadap rakyatnya, termasuk di daerah-daerah pelosok. Kita harus memberikan pelayanan, terutama dalam penyediaan bahan pangan murah kepada masyarakat,” ujarnya.

1.343 Keluarga Terima Bantuan Pangan Bapanas

Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, sebanyak 1.343 keluarga di Desa Taman Ayu menerima bantuan pangan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) RI. Bantuan yang disalurkan berupa 20 kilogram beras dan 4 liter minyak goreng untuk alokasi bulan Februari dan Maret.

Mirza menyampaikan bahwa GPM tidak hanya berfungsi sebagai program distribusi pangan murah, tetapi juga bagian dari strategi pengendalian inflasi daerah yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

“GPM ini kita upayakan bersama. Jangan hanya mengandalkan Dinas Pertanian, tetapi seluruh pihak harus berkolaborasi untuk melakukan pengendalian inflasi agar harga pangan tetap terjangkau oleh masyarakat,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan GPM akan terus digelar secara berkala di lokasi-lokasi yang terpantau mengalami tekanan harga kebutuhan pokok. Pelaksanaannya turut melibatkan pelaku UMKM untuk menyediakan komoditas dengan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat.

Berdasarkan pemantauan serta data Badan Pusat Statistik (BPS), sejumlah komoditas seperti minyak goreng dan bahan bakar rumah tangga tercatat menjadi pemicu inflasi di berbagai kabupaten/kota di NTB akibat gangguan pasokan.

“Kalau bulan ini satu titik, setiap bulan akan dilaksanakan GPM pada lokasi yang terindikasi mengalami kenaikan harga. Dari pantauan kami dan berdasarkan data BPS, bahan bakar rumah tangga dan minyak goreng menjadi penyumbang inflasi karena terjadi kelangkaan di hampir seluruh daerah di NTB,” jelasnya.

GPM Jadi Instrumen Pengendalian Inflasi Daerah

Lebih lanjut, program GPM difokuskan pada desa-desa berdaya yang masuk kategori miskin ekstrem sebagai upaya menekan tekanan harga sekaligus menjaga daya beli masyarakat.

“Sasaran GPM banyak berada di desa berdaya dan fokus pada desa dengan tingkat kemiskinan ekstrem,” tambah Mirza.

Baca juga:
Wagub NTB: APBN Harus Jadi Instrumen Keadilan Pembangunan

Pemdes Taman Ayu Apresiasi Program GPM

Sementara itu, Kepala Desa Taman Ayu, Muhammad Tajudin, menyambut baik pelaksanaan GPM yang dinilai memberikan dampak langsung bagi masyarakat, terutama dalam menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok.

Ia menilai stabilitas harga bahan pangan seperti beras dan minyak goreng menjadi faktor penting dalam menjaga daya beli warga.

“Dengan GPM ini diharapkan dapat menstabilkan harga-harga bahan pokok yang saat ini terus meningkat. Ini merupakan salah satu solusi dari Pemerintah Provinsi yang perlu terus dilaksanakan untuk menjaga daya beli masyarakat,” ujarnya.

Tajudin juga menekankan bahwa kehadiran program ini sangat membantu masyarakat di tengah kondisi keterbatasan stok sejumlah komoditas penting.

“Harga yang ditawarkan cukup terjangkau. Apalagi saat ini yang paling langka adalah minyak goreng dan beras, sehingga program ini sangat dibutuhkan masyarakat. Kami berharap kegiatan seperti ini tidak hanya dilakukan sekali, tetapi terus berlanjut hingga kondisi ekonomi masyarakat semakin stabil,” pungkasnya.

Penulis: Hadi | Lombokepo
Editor: Redaksi Lombokepo
Penerbit: PT Digital Lombok Media

Lombokepo
Lombokepo Lombokepo – Media Online Nusa Tenggara Barat

Posting Komentar