Kisah Lalu Ratmaji di Simpang Rembiga

Daftar Isi
Lalu Ratmaji, relawan lalu lintas di Simpang Jalan Halmahera, Rembiga, Kota Mataram, membantu mengatur arus kendaraan di tengah kepadatan lalu lintas.

Lalu Ratmaji mengatur arus kendaraan di Simpang Jalan Halmahera, Rembiga, Kota Mataram. Selama sekitar lima tahun, ia menjadi relawan lalu lintas secara sukarela sambil mencari nafkah untuk membantu ibunya yang lanjut usia.

MATARAM (Lombokepo) – Hampir setiap hari selama lima tahun terakhir, seorang pria berompi hijau sudah lebih dulu berdiri di tengah simpang Jalan Halmahera, Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Di bawah terik matahari, debu jalanan, dan deru kendaraan yang nyaris tak pernah berhenti, tangannya bergerak mengatur arus lalu lintas agar kendaraan dapat melintas bergantian dengan aman.

Pria itu adalah Lalu Ratmaji, relawan lalu lintas yang telah mengabdikan diri di kawasan tersebut selama sekitar lima tahun.

Ia bukan anggota kepolisian, bukan pula petugas resmi yang digaji pemerintah. Namun, kehadirannya telah menjadi pemandangan yang akrab bagi warga maupun pengendara yang setiap hari melintasi persimpangan itu.

Persimpangan Jalan Halmahera dikenal sebagai salah satu titik dengan mobilitas kendaraan yang cukup tinggi. Pada jam-jam tertentu, arus lalu lintas dari berbagai arah bertemu di jalan yang relatif sempit sehingga sering terjadi antrean kendaraan. Dalam situasi seperti itu, Ratmaji memilih berdiri di tengah jalan untuk membantu mengurai kepadatan.

"Kalau saya bisa membantu orang lewat lebih aman dan tidak terlalu macet, saya senang," kata Ratmaji kepada Lombokepo, Minggu (19/7/2026).

Merantau karena Sulit Mendapat Pekerjaan

Awal merantau bukan perkara mudah. Ratmaji mengaku harus beradaptasi dengan kehidupan di Kota Mataram sambil mencari pekerjaan agar bisa memperoleh penghasilan untuk membantu kebutuhan ibunya yang tinggal di rumah mereka di Sakra, Lombok Timur.

Ratmaji berasal dari Dusun Gubuk Kute Timuk, Desa Sakra, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur. Kesempatan kerja yang terbatas di kampung halaman membuatnya mengambil keputusan besar pada 2021: merantau ke Kota Mataram.

Di kampung, ia mengaku cukup lama menganggur. Demi mencari penghidupan yang lebih baik, ia meninggalkan keluarganya dan mencoba berbagai pekerjaan di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Kini, sebagian besar waktunya dihabiskan di pertigaan dekat Indomaret Jalan Halmahera, Rembiga.

Dari lokasi itulah ia menggantungkan harapan hidup. Pengguna jalan yang merasa terbantu terkadang memberikan uang secara sukarela. Tidak ada tarif maupun kewajiban.

"Kalau ada yang memberi, saya syukuri. Kalau tidak ada juga tidak apa-apa," katanya.

Bukan Sekadar Mencari Nafkah

Bagi Ratmaji, bekerja bukan hanya soal memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ada alasan yang jauh lebih dalam mengapa ia tetap bertahan menjalani aktivitas tersebut selama bertahun-tahun.

Ayahnya telah meninggal dunia. Kini, sosok yang menjadi penyemangat hidupnya adalah sang ibu yang telah memasuki usia lanjut dan tinggal di rumah keluarga mereka di Sakra, Lombok Timur.

Setiap rupiah yang diterimanya, baik dari hasil bekerja maupun pemberian sukarela pengguna jalan, menjadi bagian dari ikhtiarnya untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup ibunya yang telah lanjut usia di kampung halaman.

"Saya ingin terus bekerja supaya bisa berbakti kepada ibu," tuturnya.

Foto kebersamaan mereka menjadi pengingat bahwa perjuangan mencari rezeki bukan semata tentang uang, melainkan tentang tanggung jawab seorang anak kepada orang tua yang telah membesarkannya.

Mengabdi di Tengah Risiko Jalan Raya

Menjadi relawan lalu lintas bukan pekerjaan tanpa risiko.

Setiap hari Ratmaji harus berhadapan dengan kendaraan yang melintas dari berbagai arah. Cuaca panas, hujan, hingga kepadatan kendaraan menjadi bagian dari rutinitas yang dijalaninya.

Meski demikian, Ratmaji mengatakan dirinya selalu berupaya membantu sebatas kemampuan dan tetap menghormati kewenangan aparat kepolisian dalam pengaturan lalu lintas.

Baca Juga: Edukasi Lalu Lintas Sejak Dini, Polisi Sambangi Siswa SLBN 3 Mataram

Ia menyadari bahwa keberadaannya bukan pengganti petugas lalu lintas. Namun ketika kondisi jalan padat dan membutuhkan bantuan, ia memilih hadir untuk membantu semampunya.

Berharap Kehadiran Relawan Dihargai

Ratmaji tidak memiliki harapan muluk.

Ia hanya ingin masyarakat memahami bahwa para relawan lalu lintas hadir dengan niat membantu pengguna jalan, terutama di titik-titik yang sering mengalami kepadatan kendaraan.

"Harapan saya, masyarakat bisa menghargai kami yang membantu mengatur lalu lintas," ujarnya.

Bagi sebagian orang, sosok pria berompi hijau di simpang Rembiga mungkin hanya terlihat sebagai relawan yang mengatur kendaraan. Namun di balik peluit, isyarat tangan, dan senyum yang selalu ia berikan kepada pengendara, tersimpan kisah seorang perantau yang sedang berjuang mengumpulkan rezeki halal demi membalas kasih sayang seorang ibu.

Di tengah riuh kendaraan yang silih berganti melintas di Simpang Rembiga, Lalu Ratmaji mungkin bukan sosok yang banyak dikenal. Namun bagi pengendara yang setiap hari dibantunya, ia adalah simbol ketulusan. Setiap langkahnya di tengah jalan bukan sekadar mengurai kemacetan, tetapi juga menjadi ikhtiar seorang anak yang merantau demi membalas kasih sayang ibunya yang menunggu di rumah mereka di Sakra, Lombok Timur.

Penulis: Hadi
Editor: Redaksi Lombokepo
Penerbit: PT Digital Lombok Media

Lombokepo
Lombokepo Lombokepo – Media Online Nusa Tenggara Barat. Publisher: PT. Digital Lombok Media.

Posting Komentar