Panorama Senggigi dan Hilangnya Figur LAZ

Daftar Isi
Potret Suaeb Qury mengenakan kemeja putih dengan tangan menyilang di ruang kerja, menampilkan ekspresi tenang dan profesional.

Suaeb Qury, Penggiat SQ Literasi dan penulis opini "Panorama Senggigi dan Hilangnya Figur LAZ", yang mengulas kebangkitan pariwisata Senggigi serta pentingnya kesinambungan kepemimpinan dalam pembangunan destinasi wisata Lombok Barat.

Oleh: Suaeb Qury
Penggiat SQ Literasi

Senggigi kembali menemukan denyut kehidupannya. Hamparan pantai yang membentang di pesisir barat Pulau Lombok sekali lagi menjadi magnet bagi wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Aktivitas hotel, restoran, kafe, pelaku UMKM, hingga jasa transportasi mulai bergeliat, menandakan kawasan wisata ini perlahan bangkit setelah melewati masa-masa sulit akibat pandemi dan perubahan tren destinasi wisata.

Baca Juga: Kapolda Baru NTB dan Ancaman Narkoba

Kebangkitan Pariwisata Senggigi

Optimisme tersebut bukan tanpa alasan. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat melalui Dinas Pariwisata menargetkan kunjungan wisatawan mencapai 2,5 juta orang pada 2025. Target ini lebih tinggi dibandingkan yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Daerah (RPD), seiring meningkatnya konektivitas penerbangan, penyelenggaraan berbagai event nasional maupun internasional, serta membaiknya tingkat hunian hotel.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB turut memperlihatkan tren positif. Sepanjang 2025, tingkat penghunian kamar hotel berbintang mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada Desember 2025, tingkat hunian hotel berbintang mencapai 41,98 persen dengan jumlah tamu menembus 123.355 orang. Angka tersebut menjadi indikator bahwa sektor pariwisata NTB terus bergerak menuju pemulihan yang semakin kuat.

Peran LAZ dalam Mendorong Senggigi

Di balik geliat tersebut, terdapat proses panjang yang sering luput dari perhatian publik. Kemajuan sebuah destinasi wisata tidak hadir secara instan, melainkan lahir dari kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, hingga komunitas. Dalam konteks Lombok Barat, salah satu figur yang cukup menonjol dalam mendorong kebangkitan Senggigi adalah Lalu Ahmad Zaini (LAZ).

Sebagai Bupati Lombok Barat, LAZ dikenal aktif mempromosikan berbagai destinasi wisata daerah. Senggigi menjadi salah satu prioritas karena kawasan ini merupakan ikon pariwisata Lombok yang memiliki nilai historis sekaligus potensi ekonomi yang besar. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari peningkatan kualitas infrastruktur, penataan kawasan, hingga membangun citra positif Senggigi sebagai destinasi yang nyaman dan aman untuk dikunjungi.

Promosi yang dilakukan tidak semata bertujuan meningkatkan jumlah wisatawan, tetapi juga menghidupkan kembali roda perekonomian masyarakat. Ketika wisatawan datang, hotel memperoleh tamu, restoran kembali ramai, pedagang kecil mendapatkan pembeli, jasa transportasi memperoleh penumpang, dan pelaku UMKM memiliki pasar yang lebih luas. Efek berganda (multiplier effect) inilah yang menjadi kekuatan utama sektor pariwisata.

Namun, di tengah mulai pulihnya wajah Senggigi, publik juga merasakan adanya ruang yang kosong. Figur LAZ yang sebelumnya cukup intens hadir dalam berbagai agenda promosi dan pembangunan kawasan wisata kini tidak lagi tampak seaktif sebelumnya. Kehilangan sosok yang memiliki perhatian besar terhadap pengembangan destinasi memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan berbagai program yang telah dirintis.

Menjaga Momentum Kebangkitan

Padahal, pembangunan pariwisata membutuhkan kesinambungan kepemimpinan. Destinasi wisata tidak cukup hanya dibangun secara fisik, tetapi juga harus terus dipromosikan, dirawat, dan diperkuat melalui kebijakan yang konsisten. Senggigi membutuhkan lebih dari sekadar panorama alam yang indah; kawasan ini memerlukan kepemimpinan yang mampu menjaga momentum kebangkitannya.

Meski demikian, masa depan Senggigi tidak boleh bergantung pada satu figur semata. Fondasi yang telah dibangun perlu diteruskan oleh seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah daerah, pelaku industri pariwisata, komunitas, dan masyarakat harus menjaga semangat kolaborasi agar Senggigi tetap menjadi wajah pariwisata Lombok Barat sekaligus pintu gerbang utama pariwisata NTB.

Pada akhirnya, panorama Senggigi bukan hanya tentang laut biru, pasir putih, atau matahari terbenam yang memukau. Ia adalah simbol harapan, kebangkitan ekonomi, dan hasil dari kerja bersama. Figur boleh berganti, kepemimpinan dapat berubah, tetapi komitmen untuk menjadikan Senggigi sebagai destinasi kelas dunia harus tetap hidup. Sebab, keberhasilan pariwisata sesungguhnya diukur bukan hanya dari banyaknya wisatawan yang datang, melainkan juga dari sejauh mana kesejahteraan masyarakat dapat tumbuh bersama kemajuan destinasi tersebut.

Posting Komentar