Program Trenggiling Pertamina Diluncurkan di NTB

Peluncuran Program Trenggiling (Trade-In Tabung Keliling) oleh Pertamina Patra Niaga bersama Pemerintah Provinsi NTB dan Hiswana Migas di Mataram. Program pertama di Indonesia ini bertujuan mendorong masyarakat mampu beralih ke Bright Gas non-subsidi agar distribusi LPG 3 kilogram semakin tepat sasaran bagi masyarakat yang berhak.
MATARAM (Lombokepo) — Upaya memastikan subsidi LPG 3 kilogram benar-benar dinikmati masyarakat yang berhak terus diperkuat di Nusa Tenggara Barat. Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, Pertamina, dan Hiswana Migas, lahir sebuah inovasi baru berupa layanan penukaran tabung LPG bersubsidi ke Bright Gas secara keliling. Program Trenggiling diharapkan mendorong masyarakat mampu beralih ke LPG non-subsidi sekaligus menjaga ketersediaan LPG bersubsidi bagi rumah tangga kurang mampu dan pelaku usaha mikro yang berhak.
Baca Juga: Porwada PWI NTB Perkuat Solidaritas Wartawan
PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus melalui Sales Area Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Pemerintah Provinsi NTB dan Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) resmi meluncurkan program Trenggiling (Trade-In Tabung Keliling) di Mataram, Selasa (28/7/2026).
Program penukaran tabung LPG 3 kilogram bersubsidi ke Bright Gas Non-PSO secara keliling tersebut menjadi yang pertama diterapkan di Indonesia. Inovasi ini dirancang untuk mempercepat peralihan penggunaan LPG non-subsidi bagi masyarakat mampu dan pelaku usaha, sehingga penyaluran LPG bersubsidi semakin tepat sasaran.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB, H. Lalu Wiranata, S.IP., M.A., menyambut baik peluncuran program tersebut. Menurutnya, Trenggiling merupakan terobosan yang memiliki nilai inovasi tinggi.
"Program ini sangat potensial. Kalau ikut lomba inovasi, saya yakin bisa menjadi juara karena baru pertama di Indonesia," katanya.
Wiranata menilai program tersebut bukan hanya mendukung ketepatan sasaran subsidi energi, tetapi juga membuka ruang kolaborasi berbagai pihak dalam mendukung program prioritas Pemerintah Provinsi NTB.
"Kami sudah berdiskusi bersama Dinas ESDM, Pertamina dan Bulog untuk mendukung program Bapak Gubernur melalui pembentukan Desa Mandiri Energi. Fokus utamanya adalah mengentaskan kemiskinan ekstrem hingga nol persen di desa-desa sasaran. Disperindag siap berkolaborasi dengan siapa pun demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat," tegasnya.
Ia juga mengapresiasi penggunaan nama sekaligus maskot Trenggiling yang mengangkat satwa endemik dan dilindungi di NTB sebagai identitas program.
Program ini menjadi salah satu strategi pemerintah daerah dan Pertamina untuk mengurangi penggunaan LPG subsidi oleh kelompok masyarakat yang tidak berhak, sehingga kuota subsidi dapat lebih dinikmati warga berpenghasilan rendah.
Pemprov NTB Dorong LPG Subsidi Tepat Sasaran
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB, H. Syamsuddin, S.Hut., M.Si., menegaskan keberhasilan program sangat bergantung pada kesadaran masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi lebih agar beralih menggunakan LPG non-subsidi.
"Pemerintah Provinsi NTB berperan sebagai fasilitator agar kuota LPG subsidi benar-benar tepat sasaran bagi masyarakat yang kurang mampu. Kami berharap masyarakat yang mampu dapat beralih dari tabung melon ke LPG non-subsidi," ujarnya.
Menurut Syamsuddin, sinergi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, Pertamina, dan Hiswana Migas menjadi faktor penting agar distribusi LPG 3 kilogram berjalan sesuai regulasi dan diterima oleh masyarakat yang berhak.
"Target utama Bapak Gubernur adalah menurunkan angka kemiskinan ekstrem di desa-desa sasaran terutama yang masuk dalam program Desa Berdaya. Ketika subsidi tepat sasaran, masyarakat yang membutuhkan memperoleh manfaat secara optimal, sementara kelompok mampu dan pelaku usaha menggunakan LPG non-subsidi," katanya.
Strategi Jemput Bola Lewat Armada Keliling
Sales Area Manager Pertamina Patra Niaga Wilayah NTB, Dany Hutama Aji, menjelaskan program Trenggiling mengusung strategi jemput bola dengan menghadirkan layanan penukaran tabung langsung ke kawasan perkotaan dan pusat-pusat aktivitas ekonomi.
"Selama ini pangkalan lebih banyak menyediakan LPG 3 kilogram, sehingga masyarakat maupun pelaku usaha yang membutuhkan produk non-PSO sering mengalami kesulitan. Melalui Trenggiling, armada kami akan menyisir wilayah perkotaan dan pusat ekonomi agar konsumen dapat langsung melakukan trade-in ke Bright Gas 5,5 kilogram," ujarnya.
Ia mengatakan sasaran utama program ini meliputi pelaku usaha komersial seperti UMKM, usaha laundry, hotel, restoran, hingga masyarakat yang secara ekonomi telah mampu menggunakan LPG non-subsidi.
Dany menambahkan, peluncuran Trenggiling juga menjadi respons atas penyesuaian kuota LPG 3 kilogram dari pemerintah pusat. Untuk mempercepat proses migrasi ke Bright Gas, Pertamina menyiapkan berbagai insentif, mulai dari program promosi, potongan harga penukaran tabung, hingga rencana penambahan agen LPG Non-PSO di Kabupaten Lombok Utara.
Melalui Program Trenggiling, Pertamina bersama Pemerintah Provinsi NTB berharap semakin banyak masyarakat mampu beralih menggunakan Bright Gas. Langkah tersebut diharapkan membuat kuota LPG 3 kilogram semakin tepat sasaran bagi rumah tangga dan pelaku usaha mikro yang memang berhak menerima subsidi.
Penulis: Hadi
Editor: Redaksi Lombokepo



Posting Komentar