Bypass Otak Kini Bisa Dilakukan di RSUD NTB

NTB (Lombokepo) — Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi NTB mulai mampu melakukan tindakan bypass otak kompleks jenis Superior Temporal Artery-Middle Cerebral Artery (STA-MCA). Layanan tersebut untuk pertama kalinya dilakukan di RSUD Provinsi NTB melalui rangkaian proctorship bersama rumah sakit pengampu pada 11–12 September 2026.
Capaian ini menjadi bagian dari proses Pemerintah Provinsi NTB membangun kapasitas layanan kesehatan berkompleksitas tinggi di daerah. Bukan hanya menghadirkan teknologi dan fasilitas, pengembangan layanan dilakukan melalui peningkatan kompetensi dokter, pendidikan dan fellowship, serta pendampingan langsung oleh rumah sakit yang lebih dahulu memiliki pengalaman dalam tindakan bypass otak.
Baca Juga: RSUP NTB Tingkatkan Kualitas Layanan, Kepuasan Pasien Capai 88,8 Persen
Proctorship melibatkan tim RSUD Provinsi NTB bersama rumah sakit pengampu, di antaranya RS PON Prof. Dr. Mahar Mardjono Jakarta dan RS Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah Bali. Pendampingan mencakup persiapan tindakan, pengambilan keputusan klinis, pelaksanaan operasi hingga pemantauan pasien setelah tindakan.
Kemampuan tersebut kemudian diterapkan dalam penanganan dua pasien.
Pasien pertama merupakan anak berusia 12 tahun yang telah mengalami gejala sejak sekitar usia satu tahun, berupa kelemahan pada satu sisi tubuh serta gangguan bicara dan kognitif. Pemeriksaan Digital Subtraction Angiography (DSA) menemukan penyempitan pembuluh darah otak dan pasien didiagnosis mengalami Moyamoya.
Tindakan bypass dilakukan untuk membantu membangun jalur aliran darah baru ke otak serta mengurangi risiko kekurangan suplai darah dan stroke berulang.
Pasien kedua, berusia 42 tahun, memiliki riwayat stroke iskemik dengan gangguan bicara dan kelemahan anggota gerak. Pemeriksaan menunjukkan gangguan suplai aliran darah ke otak sehingga tindakan bypass dipilih untuk membantu memperbaiki aliran darah dan menekan risiko kejadian berulang.
Dua tindakan tersebut membawa NTB memasuki peta layanan bedah saraf yang masih terbatas secara nasional. Direktur Pelayanan Klinis Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI, dr. Obrin Parulian, M.Kes., menyebut dari 38 provinsi di Indonesia, baru 11 provinsi yang memberikan layanan bypass STA-MCA.
“Dari 38 provinsi, baru 11 provinsi yang memberikan layanan bypass STA-MCA ini. Kalau ini berkelanjutan dan rumah sakit sudah mandiri, berarti sudah setara dengan rumah sakit pengampu,” ujar Obrin di Mataram, Jumat (11/9).
Menurut Obrin, Kementerian Kesehatan mendorong pemerataan layanan kesehatan prioritas agar kasus berkompleksitas tinggi tidak seluruhnya terkonsentrasi di Jawa dan Sumatra. Setiap provinsi diharapkan memiliki rumah sakit pemerintah yang mampu menyediakan layanan tersebut.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa penguatan layanan RSUD NTB tidak hanya diarahkan pada tersedianya layanan, tetapi juga pada kemampuan tim untuk menjalankannya secara mandiri.
Dukungan Kemenkes juga diarahkan pada kesiapan fasilitas dan peralatan, termasuk kebutuhan mikroskop serta perangkat bedah mikro. Sementara itu, peningkatan kompetensi terus dilakukan melalui jejaring rumah sakit pengampu.
Capaian tersebut turut disaksikan langsung Sekretaris Daerah NTB Abul Chair saat menghadiri rangkaian proctorship di RSUD Provinsi NTB. Ia melihat proses tersebut sebagai bagian dari upaya memastikan teknologi medis berjalan bersama kemampuan sumber daya manusia.
“Bukan hanya ikannya, tetapi juga cara menangkap ikan dan bagaimana mengolahnya,” kata Abul Chair, menggambarkan bahwa proctorship bukan sekadar membantu satu tindakan, melainkan mentransfer pengetahuan dan keterampilan kepada tim daerah.
RSUD Provinsi NTB kini memiliki lima dokter spesialis bedah saraf dan terus mengembangkan kompetensi melalui pendidikan lanjutan, termasuk fellowship di Jepang.
Dengan dukungan Kemenkes dan jejaring rumah sakit pengampu, kemampuan tersebut diarahkan untuk terus dikembangkan hingga RSUD NTB benar-benar mampu memberikan layanan secara mandiri. Pada tahap berikutnya, rumah sakit tersebut juga berpeluang menjadi rumah sakit pengampu bagi daerah lain.
Bagi masyarakat NTB, perkembangan ini berarti layanan kesehatan dengan tingkat kompleksitas tinggi mulai dapat diakses lebih dekat. Pasien yang sebelumnya berpotensi dirujuk ke luar daerah untuk mendapatkan layanan tertentu kini memiliki alternatif di rumah sakit provinsi.
Proses tersebut sekaligus menunjukkan bahwa membangun layanan kesehatan unggulan tidak berhenti pada penyediaan teknologi. Yang lebih penting adalah membangun kompetensi manusia, sistem pelayanan dan pengalaman klinis agar ketergantungan terhadap pendampingan dapat dikurangi.
Dari proctorship menuju kemandirian, RSUD Provinsi NTB kini sedang membangun kemampuan tersebut agar pelayanan kesehatan berkompleksitas tinggi semakin dekat dengan masyarakat.
Penulis: Hadi
Editor: Redaksi Lombokepo
Penerbit: PT Digital Lombok Media
Posting Komentar