Dari Adelaide, Jejak Budaya Lombok dan Bima Ditemukan di Museum Australia
AUSTRALIA (Lombokepo) — Jejak budaya Nusa Tenggara Barat ditemukan dalam sejumlah koleksi Art Gallery of South Australia (AGSA), Adelaide. Dari wastra Lombok hingga keris asal Bima dan manuskrip lontar, koleksi tersebut memperlihatkan panjangnya perjalanan budaya NTB hingga ke luar negeri.
Temuan itu ditelusuri Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri, Ketua Dekranasda NTB Hj. Sinta Agathia, dan Ketua DPRD Provinsi NTB Hj. Baiq Isvie Rupaeda dalam kunjungan ke AGSA pada 11–12 September 2026.
Baca Juga: Wastra NTB Tembus Australia, Enam Koleksi Unggulan Siap Tampil di AGSA
Ketiganya didampingi Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB dan Kepala Museum Negeri NTB bersama tim.
Bagi Wagub, perjalanan tersebut tidak cukup hanya menghasilkan pengalaman, tetapi harus membawa pulang pengetahuan dan jejaring untuk memperkuat kebudayaan NTB.
“Yang kita bawa ke panggung dunia bukan hanya benda budaya. Yang harus kita bawa adalah cerita, pengetahuan, nilai dan sejarah yang ada di balik setiap benda itu. Karena itu perjalanan ini harus menjadi bagian dari upaya kita menjadikan kebudayaan sebagai salah satu kekuatan NTB untuk mendunia,” pesannya.
Menelusuri Wastra Lombok dan Jejak Budaya Bima
Di AGSA, delegasi menelusuri sejumlah koleksi yang berkaitan dengan Lombok, Bali dan Bima. Di antaranya kekombong, kain ritual dari Lombok Utara, kampuh atau leang dari Lombok Tengah, serta tekstil songket dengan teknik supplementary weft.
Koleksi tersebut menunjukkan bahwa wastra bukan sekadar motif dan warna. Di baliknya terdapat pengetahuan mengenai kapas, pemintalan, pewarna alam, teknik menenun, ritual, struktur sosial hingga hubungan budaya antardaerah.
Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah keris kerajaan asal Bima. Dalam katalog AGSA, benda tersebut tercatat berasal dari Bima, NTB, dan diperkirakan berasal dari abad ke-17 hingga awal abad ke-18.
Keberadaan pusaka tersebut memunculkan pertanyaan tentang seberapa banyak lagi warisan budaya NTB yang kini tersimpan di luar negeri.
“Kita harus mulai mengetahui, mendata dan membangun komunikasi dengan institusi yang menyimpannya. Tidak selalu harus berbicara tentang mengembalikan benda. Yang juga penting adalah bagaimana kita memperoleh pengetahuan, dokumentasi dan akses terhadap sejarah benda tersebut untuk masyarakat NTB,” ujar Wagub.
Dari Keris hingga Manuskrip Lontar
Jejak budaya lainnya ditemukan melalui Hikayat Nabi Yusuf yang ditulis pada daun lontar. Keberadaan manuskrip tersebut memperlihatkan bahwa kekayaan budaya NTB tidak hanya berupa kain dan benda pusaka, tetapi juga mencakup manuskrip, sastra, bahasa, arsitektur, senjata tradisional, ritus dan pengetahuan tentang alam.
Pengalaman di AGSA sekaligus menjadi referensi bagi pengembangan Museum Negeri NTB sebagai pusat pengetahuan, penelitian, pendidikan, konservasi dan diplomasi budaya.
Kerja sama ke depan dapat diarahkan pada katalogisasi, digitalisasi, konservasi, penelitian provenance, publikasi, pertukaran pameran dan penguatan kapasitas kurator.
Lombok dan Bali Bertemu di Panggung Internasional
Cerita tentang Lombok kemudian dibawa ke forum internasional melalui peluncuran buku Two Islands, One Thread: Lombok and Bali Textiles from the Michael Abbott Collections.
Forum tersebut mempertemukan peneliti, kolektor, kurator dan pemerhati tekstil. Sejumlah tokoh Australia turut hadir, termasuk Senator The Hon Don Farrell, Minister for Trade and Tourism Australia, pimpinan AGSA dan Michael Abbott AO KC.
Ketua Dekranasda NTB Hj. Sinta Agathia menilai buku tersebut tidak membandingkan mana tekstil yang lebih baik antara Lombok dan Bali, tetapi memperlihatkan hubungan, persahabatan dan pertukaran budaya kedua pulau.
Motif rangrang menjadi salah satu contoh bagaimana budaya dapat berkembang melalui interaksi tanpa kehilangan identitasnya.
Sinta juga mengapresiasi Michael Abbott yang mengumpulkan dan mendokumentasikan ratusan tekstil Indonesia, termasuk dari Lombok dan Sumbawa. Menurutnya, publikasi tersebut penting untuk meningkatkan penghargaan terhadap penenun sekaligus menginspirasi generasi muda.
Diplomasi Budaya Harus Berujung pada Manfaat
Ketua DPRD Provinsi NTB Hj. Baiq Isvie Rupaeda menilai diplomasi budaya membutuhkan dukungan berkelanjutan.
Selain membangun reputasi dan kepercayaan internasional, diplomasi tersebut harus bermuara pada pelindungan dan manfaat bagi penenun, perajin, seniman, budayawan dan generasi muda.
Bagi Wagub, pariwisata dan kebudayaan juga harus berjalan beriringan.
“Pariwisata membawa orang datang. Kebudayaan membuat orang memahami siapa kita. Dua hal ini harus saling menguatkan.”
Diaspora NTB Jadi Jembatan Adelaide-Lombok
Pesan tersebut juga dibawa kepada diaspora NTB di Adelaide. Para mahasiswa dan generasi muda didorong memanfaatkan pengalaman internasional untuk membangun ilmu dan jaringan, kemudian mengembalikannya bagi daerah.
“Belajarlah setinggi mungkin. Kuasai ilmu yang sedang dipelajari. Bangun pengalaman dan jaringan seluas-luasnya. Tetapi pada waktunya, ilmu dan pengalaman itu harus ikut memberi manfaat kepada NTB,” pesan Wagub.
Diaspora juga dipandang sebagai jembatan bagi pendidikan, investasi, perdagangan, pariwisata dan kebudayaan. Aspirasi mengenai konektivitas langsung Adelaide–Lombok pun dibuka untuk dikaji lebih lanjut.
Pada akhirnya, perjalanan Adelaide diarahkan menjadi kerja lanjutan: memetakan koleksi NTB di luar negeri, memperkuat museum, mendokumentasikan pengetahuan penenun, memperluas penelitian dan publikasi internasional.
Mendunia tidak berarti meninggalkan akar. Dari kain Lombok, lontar hingga keris Bima yang kini berada di Adelaide, jejak tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan NTB telah lama melintasi batas geografis.
Tantangannya kini adalah menyambungkan kembali jejak itu menjadi pengetahuan, kerja sama dan manfaat bagi masyarakat NTB.
Penulis: Hadi
Editor: Redaksi Lombokepo
Penerbit: PT Digital Lombok Media
Posting Komentar