Dharmayatra PSN DKI Jakarta di Lombok Perkuat Harmoni Umat
Rombongan Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) DKI Jakarta bersama Suka Duka Paramitha Santhi Jabodebek berfoto bersama usai rangkaian Dharmayatra dan simakrama di Pura Mayura, Kota Mataram, NTB, Jumat (15/5/2026).
MATARAM, NTB – Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) DKI Jakarta melaksanakan Dharmayatra atau tirtayatra ke sejumlah pura di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada 14–15 Mei 2026. Kegiatan bertema “Sevanam-Dasyanam-Lascarya” tersebut diisi persembahyangan, bakti sosial, hingga simakrama antarumat Hindu.
Tema tersebut merupakan konsep dalam ajaran Hindu Bhakti Marga yang menekankan pengabdian tulus kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan sesama manusia melalui semangat pelayanan, ngayah, serta ketulusikhlasan dalam berbuat kebaikan.
Kunjungi Tujuh Pura di Pulau Lombok
Rombongan PSN DKI Jakarta bersama Suka Duka Paramitha Santhi Jabodebek melaksanakan persembahyangan dan kegiatan sosial di tujuh pura yang tersebar di Pulau Lombok. Puncak kegiatan berlangsung di Pura Mayura, Kota Mataram.
Kegiatan Dharmayatra ini juga menjadi bagian dari penguatan wisata religi Hindu di Pulau Lombok yang dikenal memiliki sejumlah pura bersejarah dan spiritual.
Ketua Suka Duka Paramitha Santhi Jabodebek sekaligus Ketua PSN DKI Jakarta, Kolonel TNI AU Guru Mangku Made Meliun Suyasa, SH, mengatakan Dharmayatra ini menjadi bagian dari penguatan spiritual sekaligus mempererat kebersamaan umat Hindu lintas daerah.
“Kegiatan hari ini kita melaksanakan Dharmayatra. Dharmayatra kita laksanakan dari tanggal 14 sampai tanggal 15 Mei. Kita mendatangi pura, kurang lebih tujuh pura se-Pulau Lombok,” ujarnya.
Rombongan Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) DKI Jakarta menyerahkan dana punia kepada Pengempon Pura dalam rangka Dharmayatra dan kegiatan sosial di Pura Mayura, Kota Mataram, NTB, Jumat (15/5/2026).
Selain melaksanakan persembahyangan bersama, rombongan juga menyalurkan bantuan sosial dan dana punia kepada Pengempon Pura, Pinandita, serta yayasan sosial.
“Selain kita berkunjung dan sembahyang, kita melaksanakan kegiatan sosial, memberikan bantuan, memberikan dana punia kepada Pengempon Pura dan Pinandita. Begitu juga ada kegiatan sosial ke Panti Asuhan Dharma Laksana,” katanya.
Begibung Jadi Simbol Solidaritas dan Kebersamaan
Puncak Dharmayatra di Pura Mayura diisi dengan persembahyangan bersama, santipuja, hingga tradisi makan bersama atau begibung, tradisi khas Lombok yang sarat makna persaudaraan.
“Di Mayura ini kita melaksanakan sembahyang, selesai sembahyang kita melaksanakan santipuja, lalu kegiatan begibung sebagai salah satu wujud kebersamaan dan soliditas kita,” ungkapnya.
Peserta kegiatan berasal dari DKI Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi dengan jumlah hampir mencapai 700 orang yang terdiri dari pemangku, serati banten, uperengga, serta umat Hindu lainnya.
“Anggota Suka Duka Paramitha Santhi ini bukan hanya pemangku saja, tetapi ada serati banten, ada umat yang lain. Sehingga jumlahnya 701 orang,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan pesan moral agar umat Hindu terus menjaga persatuan dan semangat berbuat baik dalam kehidupan sehari-hari.
“Mari kita bersama-sama membangun kebersamaan. Yakin pada diri kita, mari kita berbuat kebaikan. Belajar menjadi tegak dan lurus apa pun pekerjaan kita,” pesannya.
Kemenag NTB: Tirtayatra Perkuat Harmoni Kehidupan
Kabid Binmas Hindu Kementerian Agama NTB, I Gde Subrata, S.E., S.Ag., mengapresiasi pelaksanaan Dharmayatra tersebut karena dinilai memperkuat nilai keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Pesan dari Binmas Hindu NTB terkait adanya tirtayatra pemangku dan pinandita ini sangat baik sekali. Kita hidup ini saling melengkapi dan harmonis,” katanya.
Menurutnya, keharmonisan dalam ajaran Hindu mencakup hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan antarsesama manusia, dan hubungan manusia dengan alam lingkungan.
“Harmonis yang pertama melalui hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Kedua hubungan harmonis antara manusia dengan manusia lainnya tanpa memandang suku maupun agama. Ketiga hubungan harmonis antara manusia dengan alam lingkungan,” ujarnya.
Ia menegaskan, apabila ketiga hubungan tersebut berjalan seimbang, maka kehidupan masyarakat akan menjadi aman dan sejahtera.
“Kalau menjadi harmonis maka kehidupan ini akan menjadi aman sentosa,” tambahnya.
Tokoh Hindu NTB Apresiasi Kehadiran PSN DKI Jakarta
Tokoh Hindu NTB sekaligus Ketua Dewan Pengarah PSN Kota Mataram, Guru Mangku Gde Wenten, turut mengapresiasi kehadiran rombongan PSN DKI Jakarta di Pulau Lombok.
Ia menilai kegiatan Dharmayatra tersebut dapat menjadi motivasi bagi pinandita di NTB sekaligus memperkuat simakrama atau silaturahmi antarumat Hindu.
“Ini menjadi motivasi bagi pinandita lain di NTB dan memperkuat simakrama atau silaturahmi antarumat,” ujarnya.
PSN Korda Kota Mataram: Rombongan Bawa Misi Sosial dan Spiritual
Sementara itu, Ketua PSN Korda Kota Mataram, Jero Mangku Ketut Santha, menyebut hari terakhir kegiatan menjadi puncak rangkaian Dharmayatra setelah dua hari melaksanakan persembahyangan di sejumlah pura.
Rombongan PSN DKI Jakarta mengikuti tradisi begibung bersama usai rangkaian persembahyangan dan santipuja di Pura Mayura, Kota Mataram, NTB.
“Hari ini adalah puncak acara tirtayatra rombongan dari PSN DKI Jakarta. Setelah dua hari melaksanakan acara, hari ini ada simakrama dan makan begibung bersama sesuai tradisi adat Lombok,” katanya.
Ia mengatakan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung lancar dan mendapat sambutan hangat dari umat Hindu di Lombok.
“Astungkara sudah berjalan lancar. Besok pagi rombongan sudah kembali ke bandara,” ujarnya.
Selain kegiatan spiritual, rombongan juga dijadwalkan mengunjungi sejumlah ikon wisata NTB seperti kawasan Mandalika dan Sirkuit MotoGP Mandalika.
“Sekaligus nanti mungkin rekreasi ke tempat-tempat ikon NTB seperti Mandalika dan sirkuit MotoGP,” tambahnya.
Selama berada di Lombok, rombongan telah mengunjungi tujuh pura di wilayah Praya, Narmada, Suranadi, Lingsar, Gunungsari, hingga Mayura.
Ketut Santa mengaku bangga karena rombongan tidak hanya melakukan persembahyangan, tetapi juga aktif berbagi kepada umat dan masyarakat yang membutuhkan.
“Beliau-beliau tidak hanya mensucikan diri ke pura-pura, tetapi juga memberikan punia kepada para pemangku di pura yang dikunjungi serta memberikan sedekah kepada yatim piatu di Yayasan Dharma Laksana,” tuturnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut membawa manfaat besar bagi umat Hindu di NTB.
“Artinya rombongan tersebut sangat bermakna, sangat berguna, dan membawa kebahagiaan setelah memberikan punia kepada umat se-dharma,” pungkasnya.
Makna Tema Sevanam-Dasyanam-Lascarya
Tema Sevanam-Dasyanam-Lascarya dalam Dharmayatra PSN DKI Jakarta mengandung makna pengabdian tulus, pelayanan tanpa pamrih, dan keikhlasan dalam menjalankan dharma. Nilai tersebut diharapkan dapat memperkuat solidaritas umat Hindu serta menjaga keharmonisan kehidupan sosial dan spiritual di tengah masyarakat.
Penulis: Hadi | Lombokepo
Editor: Tim Redaksi Lombokepo
Posting Komentar