NTB: Stunting Turun 12,88% dan CKG Jangkau 2,6 Juta Warga
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Dr. dr. H. Lalu Hamzi Fikri, MM.MARS, saat memberikan keterangan terkait program transformasi kesehatan 2026 di Mataram. Program ini fokus pada penurunan stunting dan perluasan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi jutaan warga NTB.
MATARAM, NTB – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus menunjukkan komitmen serius dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Melalui Dinas Kesehatan Provinsi NTB, sejumlah program strategis mulai dari percepatan penurunan stunting, penguatan skrining penyakit melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG), hingga penanganan TBC kini menjadi prioritas utama di tahun 2026.
Keberhasilan Strategis: Prevalensi Stunting NTB Turun ke Angka 12,88 Persen
Kabar menggembirakan datang dari evaluasi tingkat pusat pada Triwulan I-2026. Angka prevalensi stunting di NTB tercatat turun signifikan menjadi 12,88 persen. Angka ini melampaui target nasional yang ditetapkan sebesar 17,5 persen, menandakan efektivitas intervensi di lapangan.
Baca juga:
Indeks Kesehatan Desa NTB Disiapkan, Program Stunting dan Kawasan Tanpa Rokok Diperkuat
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Dr. dr. H. Lalu Hamzi Fikri, MM.MARS, menjelaskan bahwa keberhasilan ini tak lepas dari intervensi yang dilakukan secara konsisten melalui dua jalur utama: intervensi spesifik (langsung) dan sensitif (tidak langsung).
"Intervensi langsung di sektor kesehatan memiliki daya ungkit 30 persen, yang fokus pada imunisasi, pemberian ASI eksklusif, dan pola asuh. Namun, kunci utamanya juga ada pada intervensi tidak langsung yang menyumbang 70 persen daya ungkit, seperti akses air bersih, sanitasi layak, lingkungan sehat, hingga penanganan kemiskinan," ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa 05 Mei 2026.
Program Desa Berdaya sebagai Ujung Tombak
Dinas Kesehatan juga mengandalkan program Desa Berdaya sebagai instrumen penggerak di level akar rumput. Strategi yang dijalankan meliputi:
- Monitoring ketat pada 10 desa per kabupaten/kota.
- Pemberian telur secara rutin bagi balita.
- Dukungan penuh terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tantangan Lingkungan dan Perubahan Pola Makan Modern
Meski angka stunting menurun, tantangan besar masih membayangi, terutama terkait asupan nutrisi dan pengaruh lingkungan. Kadinkes menyoroti fenomena makanan siap saji yang membuat standar kebutuhan gizi balita seringkali tidak terpenuhi secara ideal.
"Terkait asupan, tantangan kita adalah memastikan seluruh balita bermasalah gizi mendapatkan pendampingan pemenuhan gizi yang tepat. Edukasi lingkungan sehat terus kami masifkan agar masyarakat tidak hanya bergantung pada makanan instan," tambahnya.
Cek Kesehatan Gratis (CKG): Hak Dasar Setiap Warga NTB
Sebagai bagian dari Program Hasil Tercepat Presiden yang dimulai sejak Maret 2025, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) kini tengah digenjot di seluruh pelosok NTB. Pada tahun 2026, ditargetkan sebanyak 2,663 juta jiwa atau 46 persen dari total penduduk NTB mendapatkan layanan skrining menyeluruh.
Masyarakat dapat mengakses layanan ini dengan mudah di berbagai titik layanan kesehatan:
- Puskesmas dan Pustu.
- Posyandu.
- Layanan komunitas pada event-event besar di NTB.
"CKG adalah upaya skrining untuk mendeteksi faktor risiko penyakit sejak dini. Ini adalah hak setiap masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan gratis di seluruh faskes. Seluruh data pasien akan terekam secara digital melalui aplikasi Satusehat Indonesia," jelas Kadinkes.
Perang Melawan TBC: Menuju Target 100 Persen Bebas Kasus
Selain fokus pada gizi, penanganan Tuberkulosis (TBC) juga diperketat. Pada tahun 2025, penemuan kasus baru mencapai 61 persen dari target 90 persen. Kendala utama yang ditemukan adalah "drop out" atau pengawasan minum obat yang terputus.
Baca juga:
Tidak Hanya Layanan Jiwa, RS Mutiara Sukma Perluas Layanan Kesehatan Perempuan, Anak dan Kebugaran
Untuk menutup celah tersebut, Dinas Kesehatan memperkenalkan strategi "Terapi Pencegahan" bagi anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita.
"Faktanya, anggota keluarga yang merasa sehat seringkali enggan minum obat pencegahan. Padahal itu wajib. Kami mendorong peran aktif masyarakat melalui 40 Desa Berdaya Siaga TBC sebagai program unggulan. Harapan kita, 40 desa ini bisa 100 persen bebas TBC ke depannya," tegas Dr. Fikri.
3 Pilar Utama Penanganan TBC di NTB
- Penemuan Kasus: Meningkatkan skrining aktif secara masif di masyarakat.
- Pengobatan: Menjamin pelayanan medis maksimal segera setelah pasien terdiagnosa.
- Terapi Pencegahan: Melindungi individu sehat yang berisiko tertular di lingkungan keluarga.
Dengan sinergi antara kebijakan nasional dan inovasi lokal seperti Desa Berdaya, Dinas Kesehatan Provinsi NTB optimis dapat menciptakan masyarakat yang lebih sehat, mandiri, dan bebas dari ancaman penyakit kronis maupun masalah gizi kronis di masa depan.
Kesimpulan
Transformasi kesehatan di Nusa Tenggara Barat tahun 2026 menunjukkan hasil signifikan melalui penurunan angka stunting, perluasan program Cek Kesehatan Gratis (CKG), dan penguatan penanganan TBC. Dengan strategi terintegrasi ini, Pemerintah Provinsi NTB optimis mampu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.
Penulis: Hadi | Lombokepo
Editor: Tim Redaksi Lombokepo
Posting Komentar