Densus 88 Edukasi 100 Siswa SMPN 3 Gunungsari Cegah Radikalisme

Siswa SMPN 3 Gunungsari mengikuti sosialisasi pencegahan intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme (IRE) yang digelar Densus 88 AT Polri di Lombok Barat.
LOMBOK BARAT, NTB - Sebanyak 100 siswa SMP Negeri 3 Gunungsari mendapat edukasi pencegahan Intoleransi, Radikalisme, dan Ekstremisme (IRE) dari Unit Cegah Satgaswil NTB Densus 88 AT Polri, Senin (2/6/2026).
Edukasi berlangsung di ruang kelas besar SMPN 3 Gunungsari, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat.
Kegiatan ini diikuti siswa kelas VII dan VIII bersama para guru. Sosialisasi bertujuan memperkuat pemahaman kebangsaan sekaligus mencegah berkembangnya paham IRE di lingkungan pelajar.
Densus 88 NTB Bentengi Siswa SMPN 4 Gunungsari dari Paham IRE
Kepala Sekolah Apresiasi Sosialisasi
Kepala SMPN 3 Gunungsari, H. Sapruddin, S.Pd., M.Pd., menyambut baik kegiatan yang dilaksanakan Tim Cegah Satgaswil NTB Densus 88 AT Polri.
"Kami mengucapkan selamat datang di SMPN 3 Gunungsari kepada Tim Cegah Satgaswil NTB Densus 88 AT Polri di sekolah kami untuk memberikan sosialisasi terkait pencegahan paham IRE. Saya mengharapkan kepada anak-anakku semua untuk menyimak materi yang disampaikan dan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.
Ia menilai kehadiran Tim Cegah Satgaswil NTB Densus 88 AT Polri sangat membantu sekolah dalam memberikan pemahaman kepada siswa terkait bahaya paham radikal.
"Kami mengucapkan terima kasih atas kehadirannya di sekolah kami, dengan kehadiran Tim Cegah Satgaswil NTB kami sangat terbantu untuk menyelamatkan anak-anak kami dari pemahaman radikal dan dalam menggapai cita-citanya," katanya.
Pelajar Diingatkan Waspadai Pengaruh Dunia Digital
Dalam pemaparannya, Tim Cegah Satgaswil NTB Densus 88 AT Polri menjelaskan pengertian intoleransi, radikalisme, ekstremisme, hingga proses terbentuknya paham yang dapat mengarah pada tindakan terorisme.
Tim juga menjelaskan bahwa pelajar menjadi salah satu kelompok yang rentan terpapar karena masih berada pada fase pencarian jati diri.
"Perkembangan paham IRE tidak hanya melalui tatap muka, namun saat ini melalui media sosial dan game online. Karena itu bijaksanalah dalam menyerap sesuatu dan patuhi apa yang telah diajarkan oleh orang tua dan bapak/ibu guru di sekolah," jelas tim.
Selain media sosial, pemateri juga mengingatkan siswa agar mewaspadai pengaruh negatif dari aktivitas digital yang tidak terkontrol, termasuk perundungan daring dan konten yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan.
Ajakan Bijak Bermedia Sosial
Siswa juga diajak mengurangi aktivitas negatif di dunia maya, menjauhi perundungan, serta memperbanyak kegiatan positif seperti organisasi dan ekstrakurikuler.
Kegiatan sosialisasi ini merupakan bagian dari upaya penguatan wawasan kebangsaan di lingkungan pendidikan Kabupaten Lombok Barat guna mencegah penyebaran paham intoleransi dan radikalisme di kalangan pelajar.
Kegiatan diakhiri dengan sesi tanya jawab antara siswa dan pemateri. Secara umum, sosialisasi berlangsung lancar dan mendapat respons positif dari pihak sekolah maupun peserta.
Penulis: Hadi
Editor: Redaksi Lombokepo
Kontak/Penerbit: PT. Digital Lombok Media
Posting Komentar