Gubernur Iqbal: Cagar Budaya Harus Menggerakkan Ekonomi Daerah

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal berdiskusi dengan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Provinsi NTB dan perwakilan TACB kabupaten/kota se-Pulau Lombok di Kantor Gubernur NTB. Pertemuan membahas penguatan pelestarian cagar budaya berbasis data digital serta pemanfaatannya untuk pendidikan, pariwisata budaya, dan pengembangan ekonomi daerah.
MATARAM (Lombokepo) – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, menegaskan pelestarian cagar budaya harus memasuki paradigma baru. Keberhasilannya tidak lagi diukur dari banyaknya objek yang ditetapkan sebagai cagar budaya, tetapi dari sejauh mana warisan sejarah dikelola, dimanfaatkan, dan memberi nilai tambah bagi masyarakat melalui pendidikan, riset, pariwisata budaya, serta penguatan ekonomi daerah.
Baca Juga: Peta Jalan Kebudayaan NTB: Menjaga Warisan, Membangun Masa Depan
Penegasan itu disampaikan Miq Iqbal saat menerima Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Provinsi NTB bersama perwakilan TACB kabupaten/kota se-Pulau Lombok di Kantor Gubernur NTB, Senin (3/8).
Menurutnya, pelestarian cagar budaya selama ini masih terlalu berorientasi pada penetapan status, sementara aspek pelindungan, pengelolaan, dan pemanfaatannya belum berjalan optimal.
"Buat saya tidak penting seberapa banyak yang ditetapkan. Yang penting adalah seberapa serius kita mengurus yang sudah ada. Lebih baik sedikit, tetapi benar-benar terurus, daripada mengejar status, setelah ditetapkan justru tidak dirawat dan tidak dimanfaatkan," tegasnya.
Pelestarian Cagar Budaya Harus Berbasis Data
Miq Iqbal menilai persoalan mendasar yang perlu segera dibenahi adalah belum tersedianya sistem inventarisasi cagar budaya yang lengkap dan terintegrasi. Padahal, data yang akurat menjadi fondasi dalam menyusun kebijakan, menentukan prioritas pelestarian, hingga mengalokasikan anggaran secara tepat.
"Kalau datanya belum tertata, bagaimana kita bisa menentukan prioritas? Kita harus memiliki sistem inventarisasi yang jelas agar arah pelestarian cagar budaya benar-benar berbasis data," ujarnya.
Karena itu, ia meminta Dinas Kebudayaan NTB segera membangun basis data cagar budaya berbasis digital yang memuat informasi lokasi, nilai sejarah, kondisi fisik, tingkat kerusakan, kebutuhan konservasi, hingga potensi pemanfaatannya sebagai pusat pendidikan, penelitian, dan destinasi wisata budaya.
Selain inventarisasi, Gubernur juga mendorong penguatan penelitian arkeologi di NTB. Menurutnya, masih banyak tinggalan sejarah yang diperkirakan berada di bawah permukaan tanah dan belum diteliti secara komprehensif.
Baca Juga: Gelitra NTB Diluncurkan, Gubernur Miq Iqbal Bangun Literasi Desa
Perhatian khusus juga diberikan terhadap pengembangan Kawasan Kota Tua Ampenan. Menurutnya, kawasan tersebut memiliki nilai sejarah tinggi sebagai pintu perdagangan dan ruang perjumpaan berbagai bangsa di Pulau Lombok. Karena itu, setiap upaya revitalisasi harus tetap menjaga karakter dan keaslian kawasan melalui pendekatan sejarah, arkeologi, dan konservasi.
Cagar Budaya Didorong Menjadi Penggerak Ekonomi
Dalam arahannya, Miq Iqbal mengajak seluruh pemangku kepentingan mengubah cara pandang terhadap kebudayaan.
"Kalau kita datang hanya membawa cerita soal anggaran, maka kebudayaan akan dianggap sebagai cost center. Tetapi kalau kita mampu menunjukkan bahwa cagar budaya dapat menggerakkan pariwisata, membuka lapangan kerja, menghidupkan UMKM, dan meningkatkan pendapatan daerah, maka kebudayaan akan menjadi profit center. Cara berpikir seperti inilah yang harus kita bangun bersama," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB, Muhamad Ihwan, mengatakan pertemuan tersebut menjadi forum koordinasi pertama sejak Dinas Kebudayaan berdiri sebagai perangkat daerah tersendiri. Forum ini menjadi langkah awal memperkuat sinergi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, Tim Ahli Cagar Budaya, perguruan tinggi, komunitas sejarah, dan para pemerhati budaya.
Sebagai tindak lanjut, Dinas Kebudayaan NTB akan mempercepat pemeringkatan koleksi Museum Negeri NTB sebagai cagar budaya tingkat provinsi, menyusun basis data cagar budaya berbasis digital, membentuk forum komunikasi TACB se-NTB, serta memperkuat kolaborasi dalam penyusunan peta jalan pelestarian cagar budaya.
Melalui langkah tersebut, Pemerintah Provinsi NTB berharap pelestarian cagar budaya tidak hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi juga menjadi investasi bagi masa depan. Dengan tata kelola berbasis data, kolaborasi yang kuat, dan pemanfaatan berkelanjutan, cagar budaya diharapkan mampu memperkuat identitas daerah, menggerakkan ekonomi kreatif dan pariwisata budaya, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat menuju NTB Makmur Mendunia.
Penulis: Hadi
Editor: Redaksi Lombokepo
Penerbit: PT Digital Lombok Media
Posting Komentar