TP-PKK NTB Perkuat Perlindungan Keluarga dari Paparan IRET
MATARAM (Lombokepo) – Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memperkuat pemahaman keluarga dalam menghadapi ancaman paparan paham radikalisme dan ekstremisme berbasis kekerasan.
Upaya tersebut dibahas dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) TP-PKK Provinsi NTB yang digelar di Aula PT Bank NTB Syariah, Dasan Agung, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram, Jumat (4/9/2026).
Baca Juga: Densus 88 Satgaswil NTB Edukasi Siswa SMPN 12 Mataram Cegah Radikalisme IRET
Kegiatan yang dimulai pukul 08.30 WITA tersebut menghadirkan Kasatgaswil NTB Densus 88 AT Polri, KBP Lili Warli, S.I.K., M.H., sebagai narasumber dengan materi “Upaya Melindungi Keluarga dari Paparan Paham Radikalisme dan Ekstremisme Berbasis Kekerasan.”
Rakerda turut dihadiri Ketua TP-PKK Provinsi NTB Hj. Sinta Agathia Soedjoko Iqbal, Direktur Teknologi Informasi PT Bank NTB Syariah Rully Feranata, S.Kom., M.M., serta sekitar 150 pengurus TP-PKK dari tingkat provinsi, kabupaten, dan kota.
Dalam pemaparannya, Lili Warli memberikan pemahaman mengenai intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme, termasuk dampaknya terhadap individu, keluarga, serta lingkungan sosial.
Ia juga menjelaskan sejumlah bentuk ekstremisme berbasis kekerasan, yakni Religiously Motivated Violent Extremism (RMVE), Ideologically Motivated Violent Extremism (IMVE), dan Nihilistic Violent Extremism (NVE).
Salah satu perhatian dalam materi tersebut adalah berkembangnya fenomena NVE melalui ruang digital, terutama di kalangan remaja. Kasatgaswil NTB turut menjelaskan fenomena True Crime Community (TCC), termasuk karakteristik dan pola yang perlu diwaspadai dalam perkembangan komunitas tersebut di media sosial.
Dalam pemaparannya, Lili Warli menjelaskan bahwa media sosial dan permainan daring (game online) juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang penyebaran paham intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme.
Karena itu, orang tua perlu memahami aktivitas digital anak sekaligus mengenali sejumlah faktor yang dapat meningkatkan kerentanan anak dan remaja terhadap paparan paham ekstrem.
Beberapa di antaranya adalah krisis identitas dan keresahan, paparan media sosial dan game online, grooming daring, hingga perilaku mirroring.
Peran Keluarga Jadi Benteng Pencegahan
Dalam kesempatan tersebut, disampaikan bahwa pencegahan paparan radikalisme dan ekstremisme tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat keamanan. Keluarga, sekolah, serta instansi terkait memiliki peran penting dalam membangun lingkungan yang mampu melindungi anak dan remaja.
Langkah antisipasi yang dapat dilakukan antara lain memperkuat peran aktif keluarga dan sekolah, meningkatkan literasi digital kritis, membangun kolaborasi lintas sektor, serta melakukan pengawasan dan perlindungan terhadap anak dan remaja dalam menggunakan ruang digital.
Keluarga juga didorong memperkuat fondasi agama yang moderat dengan mengajarkan nilai kasih sayang, toleransi, dan kedamaian. Anak perlu diarahkan untuk mempelajari agama melalui sumber-sumber yang kredibel agar tidak mudah menerima informasi keagamaan yang menyesatkan.
Selain itu, pengawasan aktivitas digital perlu dilakukan dengan pendampingan yang proporsional. Orang tua tidak hanya membatasi penggunaan gawai, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis anak agar mampu mengenali dan tidak mudah terprovokasi konten radikal di internet.
Komunikasi terbuka dan kehangatan emosional juga menjadi bagian penting. Anak perlu memiliki ruang yang aman untuk bercerita tanpa merasa dihakimi.
Orang tua juga perlu peka terhadap perubahan perilaku yang signifikan, seperti anak yang tiba-tiba menjadi lebih tertutup atau mengalami perubahan lingkungan pergaulan.
Di sisi lain, penguatan karakter dan aktivitas positif juga perlu dilakukan sejak dini. Anak dapat diarahkan untuk mengembangkan empati, menghargai perbedaan, serta terlibat dalam kegiatan positif seperti olahraga, seni, kegiatan sosial, dan aktivitas kemasyarakatan.
Ketua TP-PKK Provinsi NTB, Hj. Sinta Agathia Soedjoko Iqbal, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kasatgaswil NTB Densus 88 AT Polri atas kesediaannya memberikan edukasi kepada jajaran TP-PKK.
Ia menilai edukasi tersebut penting sebagai bagian dari upaya bersama menjaga keluarga, khususnya anak dan remaja, dari berbagai ancaman di ruang digital maupun lingkungan sosial.
Edukasi dan penguatan peran keluarga diharapkan dapat menjadi langkah preventif dalam membangun ketahanan keluarga sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi tumbuh kembang generasi muda di NTB.
Penulis: Hadi
Editor: Redaksi Lombokepo
Penerbit: PT Digital Lombok Media
Posting Komentar