Kaderisasi Pemuda Berbasis Desa, Ansor NTB Siap Jadi Mitra Strategis Pemda


Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, menegaskan pentingnya peran pemuda sebagai motor penggerak perubahan bangsa. Dirinya menyebutkan, bahwa sekitar 22 persen dari total penduduk Indonesia merupakan pemuda, sebuah potensi besar yang hanya akan bermakna jika dikelola melalui proses kaderisasi yang terencana, berjenjang, dan berkelanjutan di Kantor PWNU NTB, (5/1/2026).

Menurut Gubernur Iqbal, kaderisasi bukan sekadar kebutuhan jangka pendek organisasi, melainkan investasi strategis jangka panjang bagi gerakan sosial, pembangunan daerah dan masa depan bangsa. Proses stabilisasi dan pelatihan kader, dari tahap awal hingga lanjutan, harus dipahami sebagai upaya peningkatan kapasitas komunitas, bukan sekadar formalitas struktural.

Dirinya mengapresiasi langkah serius yang telah dilakukan oleh Majelis Ijtima Pemuda (MIP) dalam menyelenggarakan proses stabilisasi dan pelatihan yang menjangkau ratusan ribu peserta. Capaian tersebut dinilainya sebagai bukti komitmen kuat dalam membangun sumber daya manusia yang siap belajar, berproses dan berkontribusi bagi masyarakat.

“Perubahan yang efektif hanya bisa lahir dari niat baik yang dibarengi dengan kemampuan yang baik. Dengan itu, politik dan gerakan sosial dapat menjadi ruang pengabdian yang sehat dan produktif,” ujar Gubernur Iqbal.

Ke depan, Gubernur Iqbal berharap pelatihan kaderisasi dapat terus diperluas hingga ke tingkat paling bawah dengan muatan konteks lokal, mulai dari informasi, kebudayaan hingga tantangan sosial khas daerah. Dirinya menekankan, pentingnya keselarasan visi antara organisasi kepemudaan dan pemerintah daerah, mengingat pembangunan nasional tidak dapat dilepaskan dari realitas dan kebutuhan daerah.

Ketua Tanfidziyah PWNU NTB, Masnun Tahir, menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat eksistensi dan kesinambungan organisasi.

Dirinya menegaskan, bahwa dinamika sejarah Islam yang dipenuhi ragam mazhab dan pemikiran menuntut sikap dewasa, pengendalian diri serta pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai keilmuan dan kepemimpinan dalam menjalankan peran organisasi di tengah perubahan zaman.

“Generasi muda adalah penerus amanah yang akan menghadapi transformasi sosial, politik, dan kebudayaan, sehingga harus disiapkan dengan nilai dan kapasitas yang utuh demi kemaslahatan umat dan keutuhan bangsa,” ujar Masnun Tahir.

Di sisi lain, Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor NTB, Irpan Suriadiata, memaparkan perkembangan signifikan organisasi. 

Dari 89 pendaftar, sebanyak 43 kader dinyatakan lolos administrasi dan wawancara sebagai calon pemimpin Ansor di tingkat cabang.

Dirinya menjelaskan, bahwa hampir seluruh wilayah di NTB telah terpetakan, dengan pembentukan ranting di sejumlah cabang yang kini mampu melaksanakan Pendidikan Kader Dasar (PKD) secara mandiri. 

Hingga saat ini, penguatan struktur organisasi telah menjangkau sekitar 50 desa yang menjadi ujung tombak pendekatan langsung kepada masyarakat.

“Semua ini dilandasi kecintaan pada desa dan diwujudkan melalui kerja nyata sebagai bentuk pengabdian. Organisasi dibangun dengan pikiran, jiwa, dan materi secara mandiri agar memiliki daya tahan, kemandirian, dan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegas Irpan.

Kegiatan ini menjadi penegasan, bahwa gerakan pemuda, khususnya GP Ansor, siap menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam merumuskan solusi, mendorong kebijakan, dan mengakselerasi pembangunan berbasis kebutuhan lokal. 

Penulis: Tim Lombokepo
Editor: Hadi
Sumber: Kominfotik NTB

Postingan populer dari blog ini

Strategi NTB Putus Rantai Stunting : Dari Meja Makan Hingga Program Desa Berdaya