Idul Fitri dan Rindu yang Tak Sempat Pulang, Pesan Mendalam Ketua IPPAT NTB di Lebaran 2026
MATARAM — Di tengah gema takbir yang mengalun pada perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah, suasana Lebaran tahun 2026 tidak hanya menghadirkan kebahagiaan, tetapi juga menyisakan ruang rindu bagi mereka yang belum sempat pulang bertemu keluarga.
Ketua Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) Nusa Tenggara Barat, Dr. Saharjo, S.H., M.Kn., M.H., menyampaikan ucapan Idul Fitri dengan pesan reflektif tentang makna jarak, waktu, dan hubungan kemanusiaan yang tetap terjalin meski tidak dapat bertatap muka secara langsung.
Menurutnya, Idul Fitri merupakan momentum yang selalu menghadirkan dua perasaan yang berjalan berdampingan, yaitu rasa syukur dan rasa haru.
“Di hari kemenangan ini, rindu kembali memeluk. Ada yang ingin pulang, namun langkah tertahan. Ada yang ingin bersua, namun waktu belum memberi izin. Meski raga tak bisa bertatap muka, namun hati kita tetap bertaut,” ujarnya.
Idul Fitri Momentum Mempererat Silaturahmi
Saharjo mengatakan, rasa syukur hadir karena masih diberikan kesempatan merayakan Idul Fitri, sementara rasa haru muncul karena tidak semua kebersamaan dapat terulang seperti sebelumnya.
Ia juga mengajak masyarakat menjadikan Idul Fitri sebagai momentum mempererat kembali hubungan yang sempat renggang.
“Selamat Idul Fitri 2026. Mohon maaf atas segala salah. Untuk yang jauh semoga didekatkan. Untuk yang renggang semoga dipertautkan kembali. Dan untuk yang telah tiada, semoga doa kita sampai dalam pelukan kasih-Nya,” katanya.
Pantun Idul Fitri Penuh Makna
Dalam pesannya, Saharjo juga menyampaikan pantun sederhana yang menggambarkan suasana hati banyak orang pada momen Lebaran.
Pergi ke taman memetik melati,
Harumnya tinggal di ujung senja.
Di hari suci Idul Fitri,
Luka lama luruh bersama air mata.
Tak lupa membawa bunga kenanga,
Meski gugur tetap berharga.
Mohon maaf lahir dan batin ya,
Jika ada kata yang pernah melukai rasa.
Idul Fitri Bukan Tentang Kesempurnaan
Menutup pesannya, Saharjo berharap Idul Fitri dapat menjadi momen penyembuhan hubungan antarsesama, sehingga hati yang pernah terluka dapat kembali utuh.
Ia menegaskan bahwa makna Idul Fitri bukan terletak pada kesempurnaan manusia, melainkan keberanian untuk saling memaafkan.
“Karena pada akhirnya, Idul Fitri bukan tentang siapa yang paling sempurna, tetapi tentang siapa yang berani kembali, meminta maaf dan memaafkan,” tutupnya.
Berita IPPAT NTB lainnya:
- Dr. Saharjo Ajak PPAT NTB Menjaga Marwah Profesi dalam Sosialisasi SE Menteri ATR/BPN 2026
- Maknai Nyepi, Ketua IPPAT NTB Ajak Jaga Harmoni dan Kesucian Hati
- Peran Strategis Dalilah Dorong Investasi Lombok Tengah, IPPAT NTB Siap Kolaborasi
- Kebersamaan Ramadhan, Ketua IPPAT NTB Tekankan Solidaritas dan Integritas Organisasi
Penulis: Hadi
Editor: Tim Lombokepo

Posting Komentar