Pemprov NTB Bangun Kesehatan Lewat Desa Berdaya
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal memberikan sambutan saat membuka Semiloka Nasional ADINKES 2026 di Mataram, menegaskan pentingnya integrasi data kesehatan dan penguatan desa berdaya.
NTB Jadikan Data Terintegrasi Sebagai Fondasi Pembangunan Kesehatan
LOMBOKEPO, MATARAM – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) menegaskan bahwa tantangan terbesar pembangunan kesehatan daerah saat ini bukan hanya layanan medis, tetapi juga ketersediaan data yang akurat, terhubung, dan dapat digunakan sebagai dasar kebijakan.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyampaikan, selama ini data kesehatan masih tersebar di berbagai lembaga dan belum terintegrasi secara optimal. Kondisi tersebut dinilai menghambat lahirnya kebijakan yang presisi dan tepat sasaran.
“Kami masih menghadapi persoalan data yang tersebar dan belum terintegrasi. Ke depan, kami mulai mengintegrasikan data rumah sakit dan puskesmas agar kebijakan kesehatan lebih akurat,” ujarnya saat membuka Semiloka Nasional Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (ADINKES) 2026 di Mataram, Selasa (28/4).
Menurutnya, pendekatan evidence-based policy atau kebijakan berbasis data menjadi kunci agar setiap program kesehatan mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat, mulai dari pencegahan penyakit, gizi keluarga, hingga pemerataan akses layanan kesehatan.
Kesehatan Jadi Penopang Tiga Prioritas Besar Pembangunan NTB
Pemprov NTB saat ini memprioritaskan tiga agenda besar pembangunan daerah, yaitu:
- Pengentasan kemiskinan
- Ketahanan pangan
- Pengembangan pariwisata kelas dunia
Meski sektor kesehatan tidak disebut secara terpisah, Gubernur menegaskan bahwa kesehatan merupakan fondasi utama dari seluruh agenda tersebut.
Tanpa masyarakat yang sehat, produktivitas ekonomi sulit meningkat, ketahanan pangan rentan terganggu, dan sektor pariwisata tidak dapat berkembang maksimal.
“Kesehatan memang tidak disebut secara eksplisit sebagai prioritas, tetapi menjadi bagian yang melekat. Tidak mungkin kita mencapai tujuan tanpa kesehatan yang baik,” jelasnya.
Pengendalian Rokok Remaja Jadi Sorotan
Ketua Umum ADINKES dr. Moh. Subuh menilai Indonesia masih menghadapi banyak tantangan kesehatan, terutama faktor risiko yang dimulai sejak usia muda.
Salah satu isu yang menjadi perhatian serius adalah meningkatnya kebiasaan merokok pada remaja, yang berkontribusi terhadap berbagai penyakit tidak menular, gangguan pernapasan, stunting, hingga tuberkulosis.
“Pengendalian rokok, khususnya pada remaja, menjadi salah satu tantangan besar yang harus kita hadapi bersama,” ujarnya.
Desa Jadi Titik Awal Sistem Kesehatan Tangguh
Melalui program Desa Berdaya dan sinergi nasional melalui ADINKES, NTB ingin menunjukkan bahwa pembangunan kesehatan tidak harus dimulai dari kota besar atau rumah sakit modern, tetapi bisa dimulai dari desa.
Dengan data yang kuat, kader yang aktif, dan kolaborasi lintas sektor, desa diharapkan menjadi fondasi lahirnya sistem kesehatan yang merata, tangguh, dan berkelanjutan di Indonesia.
Baca juga:
- Perokok Usia Remaja di NTB Capai 12,4 Persen, Dinkes Perketat KTR
- Indeks Kesehatan Desa NTB Disiapkan, Program Stunting dan Kawasan Tanpa Rokok Diperkuat
- RSUP NTB Tingkatkan Kualitas Layanan, Kepuasan Pasien Capai 88,8 Persen
Penulis: Hadi | Lombokepo
Editor: Tim Redaksi Lombokepo
Posting Komentar