Ribuan Siswa SMPN 15 Mataram Diedukasi Satgaswil NTB Soal Bahaya IRET

Daftar Isi
Foto bersama Tim Cegah Satgaswil NTB Densus 88 AT Polri dengan Kepala Sekolah dan guru SMPN 15 Mataram usai kegiatan SOSBANG.

MATARAM – Unit Cegah Satgaswil NTB Densus 88 AT Polri terus bergerak masif dalam membentengi generasi muda dari pengaruh paham radikal. Kali ini, tim menyambangi SMP Negeri 15 Mataram untuk menggelar Sosialisasi Kebangsaan (Sosbang) guna penguatan wawasan kebangsaan serta pencegahan paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET).

Kegiatan yang dipusatkan di aula sekolah tersebut dimulai pukul 07.30 WITA dan diikuti oleh Kepala Sekolah, dewan guru, serta sebanyak 1.143 siswa dengan penuh antusias.

Sinergi Sekolah dan Satgaswil NTB Densus 88 AT Polri

Kepala SMPN 15 Mataram, Ibu Hj. Sri Wahyu Indriani, S.Pd., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi atas kehadiran Tim Cegah Satgaswil NTB Densus 88 AT Polri. Menurutnya, kehadiran kepolisian di lingkungan sekolah sangat membantu dalam memproteksi siswa dari doktrin yang menyimpang.

"Kami sangat terbantu dengan kehadiran Tim Cegah Satgaswil NTB Densus 88 AT Polri. Ini adalah langkah preventif untuk menyelamatkan masa depan anak-anak kami. Kami siap bersinergi dan mendukung penuh program pencegahan ini demi memastikan siswa kami tetap berada di jalur yang benar dalam menggapai cita-cita," ungkap Hj. Sri Wahyu.

Edukasi Bahaya IRET dan Pola Rekrutmen Digital

Waspada Rekrutmen Melalui Game Online dan Media Sosial

Dalam pemaparannya, perwakilan Satgaswil NTB Densus 88 AT Polri menjelaskan bahwa pelajar menjadi sasaran empuk kelompok radikal karena masih dalam fase mencari jati diri. Tim menekankan bahwa ancaman IRET kini tidak lagi hanya melalui pertemuan fisik, melainkan sudah masuk ke ruang digital yang sangat dekat dengan keseharian siswa.

"Adik-adik harus waspada. Saat ini paham IRET berkembang melalui media sosial dan bahkan platform game online. Jangan mudah terpengaruh, bijaksanalah dalam menyerap informasi di internet, dan patuhi arahan guru serta orang tua," tegas tim Satgaswil NTB.

Kaitan Perundungan (Bullying) dengan Intoleransi

Tim juga memaparkan bahwa tindakan teror seringkali berawal dari sikap intoleransi dan aksi perundungan (bullying) di sekolah. Oleh karena itu, para siswa diingatkan untuk saling menghargai dan menjauhi segala bentuk kekerasan sebagai fondasi dasar mencegah radikalisme.

Sosialisasi Regulasi dan Penutup

Selain memberikan pemahaman ideologi, Satgaswil NTB Densus 88 AT Polri juga menyosialisasikan Peraturan Menteri Komdigi mengenai pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun sebagai upaya perlindungan anak dari konten digital berisiko tinggi.

Acara ditutup dengan sesi tanya jawab yang interaktif, di mana para siswa diberikan kesempatan berdialog langsung dengan personil Densus 88 AT Polri. Kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai bentuk komitmen bersama antara SMPN 15 Mataram dan Satgaswil NTB dalam menjaga kondusifitas wilayah serta keutuhan NKRI.


Baca juga:

Penulis: Hadi | lombokepo
Editor: Tim Redaksi lombokepo

Lombokepo
Lombokepo Lombokepo – Media Online Nusa Tenggara Barat

Posting Komentar